Suara pendingin ruangan yang mendesis halus adalah satu-satunya melodi di ruangan kerja eksekutif itu. Ketegangan antara Lily dan Ethan begitu pekat, seolah bisa dipotong dengan pisau kertas. Surat pengunduran diri Lily, yang kini terlipat kusut di tangan Ethan, telah memicu kemarahan dingin sang CEO. Namun, kemarahan itu cepat surut, digantikan oleh ketenangan menakutkan seorang ahli strategi yang telah menemukan lubang kelemahan lawan. "Kamu ingin berhenti karena alasan moralitas dan etika?" tanya Ethan, nadanya datar, tanpa emosi, sebuah kontras tajam dengan gairah menuntutnya tadi malam. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, membiarkan Lily merasakan dominasinya. "Baiklah, Lily. Mari kita kesampingkan sejenak drama moralistik itu. Sekarang, mari kita bicara tentang etika yang lebih men

