Bab 10 - Menggiring ke Tempat Sepi

1950 Kata
Setelah bercerai, Ziva meninggalkan Jakarta dan menetap di Senjaratu agar bisa move-on dari Elric. Harus Ziva akui bukan hal mudah untuk melupakan Elric, terlebih rasa cintanya terhadap pria itu. Ziva terkadang menangis saat malam hari hanya karena merindukan mantan suaminya itu. Namun, itu berlangsung pada tahun pertama saja. Pada tahun kedua dan seterusnya, Ziva sudah mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Ia mulai menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang membantunya move-on—mempelajari banyak hal yang bermanfaat untuk kehidupannya. Entah itu kuliah online, les memasak, belajar make up, berlatih bela diri, belajar piano yang memang hobinya sejak kecil saat belum jatuh miskin, dan masih banyak lagi. Intinya, Ziva benar-benar sibuk dengan aktivitas positif yang membantu dirinya upgrade. Selain itu, segala yang Ziva inginkan bisa diwujudkan dengan mudahnya. Bagaimana tidak, Ziva bukan wanita miskin lagi. Ia pergi dengan membawa uang kompensasi dan tanda terima kasih dari Elric yang jumlahnya cukup fantastis. Sampai-sampai Ziva tak pernah kekurangan, bahkan bisa meng-upgrade dirinya menjadi Ziva yang berbeda. Jika lima tahun yang lalu Ziva hanyalah gadis polos berusia 22 tahun yang sangat bergantung pada Elric, kini wanita itu telah tumbuh menjadi wanita cantik dengan tubuh proporsional, berat badan ideal, modis, pintar merawat diri dan tentu saja mandiri. Sungguh, Ziva benar-benar berbeda. Jika membandingkan foto Ziva lima tahun lalu dengan sekarang, jelas bagaikan bumi dengan langit. Terlepas Ziva menjadi kaya berkat uang kompensasi perceraian yang Elric berikan, Ziva juga tambah kaya dari hasil kerjanya sendiri sebagai model utama untuk produk-produk Radiant Rose, sebuah departemen store ternama di Senjaratu. Ziva juga memiliki banyak pengikut di media sosial sehingga berani membuka jasa paid promote dan endorsement yang kini list antreannya lumayan banyak. Hidup Ziva benar-benar berubah. Sejauh ini sudah banyak negara yang Ziva kunjungi, tapi setelah bepergian ke mana pun ... Ziva tetap kembali ke Senjaratu. Ziva benar-benar melanjutkan hidupnya dengan penuh kenyamanan, dari Ziva yang polos ... kini wanita itu seolah terlahir kembali menjadi Ziva yang jauh lebih matang dan dewasa. Biasanya Ziva di Jakarta sekadar transit—misalnya baru pulang dari luar negeri, ia menginap di hotel sambil menunggu keberangkatan kapal menuju Senjaratu. Namun, sudah satu bulan Ziva berada di Jakarta. “Kamu beneran betah ya, Ziv?” Suara teman Ziva di seberang telepon sana mulai terdengar. “Aku nggak expect kamu bakalan lama. Meskipun kamu berasal dari Jakarta, aku tahu betul kamu nggak pengen berlama-lama di sana. Tapi ini udah sebulan loh.” “Aku juga nggak nyangka bisa berada di sini tanpa takut bertemu siapa-siapa. Ternyata memang waktu beneran udah berlalu, udah sebulan aku di sini dan aku nggak pernah bertemu satu pun orang yang aku kenal.” Jujur, dulu yang Ziva takutkan saat berada di sini bukan takut bertemu ibu tiri atau saudara tiri yang entah masih hidup atau tidak. Ziva hanya takut bertemu Elric karena sekarang ia sudah benar-benar move-on. Ia tak mau upaya move-on yang dilakukannya jadi sia-sia. Namun, setelah menjalaninya langsung ... nyatanya Ziva tak perlu mengkhawatirkan apa pun karena sejauh ini tak ada kebetulan yang membuatnya dipertemukan lagi dengan sang mantan suami. Ziva bahkan berusaha tidak mencari tahu kabar pria itu. Jadi, sedikit pun ia tak tahu bagaimana hidup Elric sekarang. Termasuk apakah mantan suaminya itu sudah menikah lagi, Ziva sungguh tak tahu. Selain itu, Ziva juga berkeyakinan kalau Elric pun sama sepertinya, tak pernah mau tahu lagi tentang bagaimana kabarnya. Mereka sudah benar-benar saling melupakan. “Ziv, aku yakin kamu pasti menikmati waktumu menjadi guru les piano dadakan. Pasti menyenangkan, kan?” “Melakukan apa yang disukai, udah pasti menyenangkan. Makanya aku bertahan lumayan lama di sini,” jelas Ziva. “Ditambah hotelnya juga nyaman. Bikin aku betah long stay di sini,” kekehnya. Setelah kembali bermain piano, Ziva tak menyangka akan berada di titik yang diminta mengajari orang lain. Awalnya Ziva hanya kebetulan diminta mengajari anak dari kenalan petinggi Radiant Rose yang tinggal di Jakarta. Itu pun Ziva mau karena sedang transit dan menunggu keberangkatan kapal yang jadwalnya setiap hari Jumat. Namun, siapa sangka ... anak yang Ziva ajari menceritakan pada teman-temannya sehingga Ziva diminta menjadi guru les piano mereka. Untuk itu sekalian saja Ziva membuka les private datang ke rumah selama sebulan ini. “Lagian udah lima tahun berlalu. Semoga kamu bisa merasa aman dan nyaman selagi berada di sana,” balas teman Ziva. “Ngomong-ngomong, aku belum cerita ya? Kalau aku punya side job di sini selain jadi guru les piano anak-anak. Side job yang lumayan menantang.” “Apaan tuh? Jadi penasaran se-menantang apa.” “Aku mainan dating app. Bukan berencana nyari jodoh, sih. Tapi buat nyari temen supaya bisa mengisi waktu luangku selagi di sini.” Jika ini Ziva versi lima tahun lalu, mana mungkin ada keberanian seperti itu? Namun, Ziva versi sekarang adalah Ziva yang berani dan tidak takut dalam melakukan hal baru. Makanya Ziva merasa dirinya bisa melakukan apa pun. Tentunya wanita itu menjamin dirinya tetap berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ziva tidak berbohong kalau dirinya bermain aplikasi kencan. Faktanya ia memang butuh teman untuk mengisi waktu luangnya. Namun, siapa sangka, Ziva berkenalan dengan pria yang cukup unik. Pria itu bermain aplikasi kencan untuk mencari pacar bohongan. Jujur, Ziva langsung dejavu dengan apa yang terjadi lima tahun lalu. Dulu Elric mencari istri kontrak, sedangkan pria yang berkenalan dengan Ziva mencari pacar bohongan untuk dikenalkan dengan seluruh keluarga. Berhubung pria itu sangat terdesak, Ziva akhirnya mau membantu. Benar-benar murni membantu, itu pun niatnya satu kali saja. Namun, Ziva tak menyangka dirinya diberi sejumlah uang sebagai tanda terima kasih. Dari situlah Ziva mulai kepikiran ... ternyata seru juga. Ia merasa menjadi pacar bohongan membuatnya merasa tertantang. Sejauh ini, sudah tiga klien pria yang Ziva bantu dan malam ini Ziva akan membantu klien ke-empat. Mendengar cerita Ziva, tentu saja temannya yang berada di Senjaratu terdengar kaget. “Kamu waras, kan, Ziv?” “Mana mungkin aku gila?” “Padahal di Senjaratu banyak yang pengen pacaran beneran sama kamu, tapi kamu lebih suka jadi pacar bohongan hanya karena dibayar?” “Bayarannya aku anggap bonus aja. Aku merasa seru dan tertantang aja, apalagi awalnya niatku cuma mau bantu. Siapa yang menyangka klien pertamaku malah merekomendasikan aku ke temen-temennya.” “Gilaaa. Berarti kamu udah tiga kali nemenin cowok dan berpura-pura jadi pacar mereka?” “Iya, semuanya pengen aku bersikap seolah pacarnya di hadapan keluarganya.” “Mereka ini kenapa? Kok nggak nyari pacar beneran aja?” “Mereka nggak suka cewek, tapi butuh pacar buat formalitas kayak gini aja. Makanya nyari pacar bohongan.” “Ya ampun. Ternyata klien-klien kamu satu lingkup, ya.” Teman Ziva kembali berbicara, “Hati-hati loh, Ziv. Takutnya mereka jahat atau melakukan sesuatu yang buruk sama kamu.” “Aku mana berani kalau tanpa bekal? Jangan lupa, aku kalau di sasana beneran berlatih, bukan formalitas demi fomo,” kekeh Ziva. “Lagian aku hanya mau jadi pacar bohongannya satu kali aja, nggak mau lebih dari satu kali. Itu aturannya,” lanjutnya. “Iya, iya paham. Tapi tetep aja kamu harus hati-hati.” “Oke, tenang aja. Lagian sejauh ini yang pakai jasa aku pasti masih satu sirkel sama klien pertamaku. Aku nggak sekurang kerjaan itu yang sampai promoin diri jadi pacar sewaan.” Ziva kembali berbicara, “BTW udah dulu, ya. Klien ke-empatku barusan chat. Rupanya dia udah di lobi.” Sambungan telepon terputus. Ziva yang memang sudah selesai bersiap-siap sejak belum teleponan dengan temannya, kini langsung menuju lobi hotel tempat ia menginap. Di lobi, seorang pria bernama Arda sudah menunggunya. Ziva sama sekali tidak tahu kalau Arda adalah pria yang berselingkuh dengan calon istri Elric lima tahun lalu. Begitu juga dengan Arda yang langsung pindah ke luar kota pasca kejadian memalukan itu. Ia sama sekali tidak tahu kalau Ziva adalah mempelai pengganti Lika yang kini sudah menjadi mantan istri Elric. Setelah perkenalan singkat, Arda mengajak Ziva masuk ke dalam mobilnya. “Jangan salah paham ya, alasanku nyari pacar bohongan bukan karena aku nggak suka perempuan,” ucap Arda sambil mengemudikan mobilnya. “Jujur, aku memang mengira kamu sama dengan klien-klienku sebelumnya. Soalnya yang merekomendasikan aku menjadi pacar bohongan itu—” “Aku beda sama mereka,” potong Arda. “Kalau aku cari pacar bohongan bukan buat dikenalin ke keluarga.” “Terus?” “Aku pengen ngajak kamu ke sebuah pesta. Di sana ... ada temen-temen lama aku,” jelas Arda. “Sayangnya aku nggak punya pacar, makanya aku berminat buat menjadikan kamu pacar bohongan. Terlalu aneh datang sendiri ke sana.” “Apa yang harus aku lakukan di sana?” “Tetap mendampingi aku. Intinya bersikap selayaknya pacarku.” Ziva mengangguk-ngangguk. “Ngomong-ngomong jangan salah paham juga, ya. Aku begini karena buat mengisi waktu luang, bukan untuk mencari uang. Makanya aku mau jadi pacar bohongannya satu kali aja. Dalam kata lain, ini pertama dan terakhir kalinya aku nemenin kamu dan bersikap selayaknya pacar kamu.” “Aku tahu. Temenku udah menjelaskan itu dan aku setuju,” jawab Arda. Sampai pada akhirnya di tempat pesta.... Ziva semakin sadar ada yang tak beres antara Arda dengan teman-temannya. Lebih tak beres lagi saat wanita itu menyadari Elric menjadi salah satu yang juga menghadiri pesta tersebut. Ziva pun bertanya-tanya ... apa itu artinya Arda teman Elric? Serius, Ziva tidak pernah tahu siapa saja teman-teman Elric. Satu-satunya yang Ziva tahu hanyalah Bams. Itu sebabnya sekarang ia sangat terkejut. Sedangkan teman-teman Elric pun tidak terlalu mengenali Ziva karena hanya bertemu wanita itu satu kali saat menikah dengan Elric. Selain itu, sekarang penampilan Ziva sangat berbeda. “Entah siapa yang cepu sama lo kalau kami mengadakan pesta di sini, yang pasti lo itu tamu nggak diundang. Sekarang mendingan lo pergi daripada bikin kekacauan di sini.” “Gue datang buat minta maaf, bukan buat bikin kekacauan,” jawab Arda santai. “Gue serius,” sambungnya. “Sini, gue mau bicara sama lo!” Seorang pria menyeret Arda, mengajaknya bicara di tempat yang lebih sepi. Tentu saja Ziva mustahil ikut. “Sayang maaf pasti kamu kaget, tolong duduk sebentar, ya. Jangan ke mana-mana,” pinta Arda. “Aku mau bicara dulu dengan mereka,” lanjutnya lalu diseret ke tempat sepi oleh teman-temannya. Sungguh, andai tahu akan berada pada situasi seperti ini, Ziva mungkin tidak akan menolong Arda dengan menjadi pacar bohongan pria itu. Terlebih sekarang ia malah dipertemukan lagi dengan Elric, padahal Ziva tak pernah berharap mereka bertemu lagi. Sekarang yang jadi pertanyaan Ziva, apa pertemuannya dengan Elric akan membuatnya kembali berurusan dengan pria itu? “Enggak! Jangan sampai!” batin Ziva. Agar tidak berurusan lagi dengan sang mantan suami, Ziva lebih baik segera menghindar. Terlepas Arda memintanya duduk menunggu, Ziva merasa lebih baik dirinya bersembunyi dulu. Tuh kan! Saat Ziva berjalan keluar, ia merasa ada yang mengikuti. Benar saja, yang mengikutinya adalah Elric. Ziva sempat menoleh ke belakang dan langkahnya semakin cepat saat Elric memanggil namanya. Beruntung Ziva menemukan tempat yang memungkinkan baginya untuk bersembunyi. Tempat di mana mobil-mobil diparkirkan dan Ziva sengaja bersembunyi di tembok paling pojok. Sejenak, Ziva menahan napasnya. Ia berharap Elric tidak menemukannya. Saat Elric tampak memutar tubuhnya, Ziva agak lega. Sampai kemudian, dadanya naik turun saat menyadari Elric memutar tubuhnya sekali lagi jadi menghadap ke arahnya. “Rupanya kamu di situ,” ucap Elric seraya melangkah menghampiri mantan istrinya. “Kenapa kamu lari dan bersembunyi?” tanyanya kemudian. Pria itu semakin mendekat pada Ziva yang berdiri terpaku. “Apa kamu ... sengaja menggiring saya ke tempat sepi?” Menggiring ke tempat sepi apanya? Ziva ingin bersembunyi yang sialnya malah ketahuan! Ziva yang semula tampak takut dan penuh waspada, kini mengubah ekspresinya menjadi se-tenang mungkin. “Maaf, kamu siapa?” Mendengar pertanyaan Ziva, sontak Elric tercengang. Kamu siapa? Ziva bilang ‘kamu siapa’? Apa-apaan?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN