Bab 11 - Kejutan di Apartemen

2080 Kata
Bukan bertemu Arda yang membuat Elric terkejut. Ia bahkan sudah tidak peduli dengan mantan teman yang kini ia masukkan ke dalam daftar musuh sejak lima tahun lalu. Elric sungguh tak mau tahu lagi tentang apa yang terjadi dalam hidup Arda, entah musuhnya itu ending-nya menikah dengan Lika atau tidak ... ia benar-benar tak peduli. Entah bagaimana kabar Lika maupun Arda, sejak lima tahun lalu hingga saat ini, Elric sungguh tak pernah mencari tahu. Mereka masih hidup atau sudah mati, Elric sepenuhnya tak peduli. Ia harap tak pernah bertemu mereka lagi selamanya. Namun, kehadiran Arda sebagai tamu tak diundang di sebuah pesta, setidaknya membuat Elric tahu kalau musuhnya itu masih hidup dan sehat. Harapan Elric untuk tak bertemu Arda lagi pun seakan buyar karena nyatanya ia malah bertemu pria itu. Sungguh, bagaimana mungkin Arda masih punya muka untuk menampakkan diri? Bukan hanya Elric yang berpikir Arda lancang, tapi semua yang ada di sana menganggap Arda tidak tahu malu. Bisa-bisanya hadir seolah tanpa dosa. Sekalipun Arda mengatakan ingin meminta maaf, tetap saja semua pasti tidak terima. Jangankan Elric yang secara langsung berurusan dengan Arda sehingga menganggap pria itu musuh, bahkan teman-teman Elric yang lain pun sudah menganggap Arda selayaknya musuh bebuyutan karena mereka semua berada di pihak Elric. Itu sebabnya mereka langsung mengonfrontasi Arda sejak awal pria itu tiba. Sekali lagi, bukan bertemu Arda yang membuat Elric kaget, melainkan wanita yang digandeng tangannya oleh sang musuh. Bukankah itu Ziva? Sekalipun penampilannya sangat jauh berbeda, tapi Elric masih bisa mengenali mantan istrinya itu. Penampilan yang berbeda? Ya, sangat-sangat-sangat berbeda. Bagaimana tidak, dulu Ziva terkesan polos, pakaiannya terutup dan cenderung tidak terlalu memperhatikan penampilan. Sedangkan saat ini ... penampilan Ziva seolah berubah seratus derapan puluh derajat. Ziva bukan hanya modis dan jauh lebih memperhatikan penampilan, wanita itu cenderung berani mengenakan pakaian yang lebih terbuka. Jika dulu wanita itu bisa disebut polos, sekarang Ziva terlihat sangat seksi. Padahal dulu Ziva itu penampilannya sangat tertutup. Lima tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi untuk ukuran berubah ... Elric merasa perubahan Ziva dalam hal penampilan sangatlah drastis. Meski Elric tak bisa memungkiri kalau dulu Ziva memang sudah cantik, tapi kali ini wanita itu jauh lebih cantik. Konyolnya, Ziva bertanya siapa pada Elric?! Apa wanita itu sungguh lupa kalau mereka pernah menikah dan tinggal bersama? Atau sekadar pura-pura lupa? Jika iya, apa tujuannya pura-pura lupa? “Kamu bertanya saya siapa?” tanya Elric, mencoba memastikan. “Ya, apa kita kenal sebelumnya?” Ziva balik bertanya dengan nada se-tenang yang ia bisa. Padahal jantungnya berdetak sangat cepat. “Entah apa tujuanmu berpura-pura lupa, yang pasti ... kenapa kamu tiba-tiba jadi calon istrinya si berengsek itu?!” “Si berengsek?! Aku nggak tahu apa kesalahan dia sampai-sampai dibenci oleh semua orang di sini.” “Kamu mau tahu alasannya?” tanya Elric. Ziva terdiam. “Kalau begitu, saya juga mau tahu alasan kamu pura-pura lupa pada saya,” kata Elric lagi. Ziva sengaja tidak menanggapi pertanyaan Elric, karena ia pun tak tahu alasan pastinya kenapa harus berpura-pura lupa. Sungguh, tadi itu dia refleks. Pertanyaan ‘kamu siapa’ seolah terlontar begitu saja, padahal Ziva tak merencanakannya. “Kalau begitu apa alasan calon suamiku se-begitu dibencinya di sini?” tanya Ziva kemudian. Bukannya apa-apa, terlepas apa hubungan Elric dengan Arda, kenyataannya Ziva hadir di sini sebagai pasangan pura-pura Arda. Ia akan menepati janjinya sampai akhir, bahwa akan bersikap selayaknya pacar Arda. “Kamu bilang dia calon suami,” balas Elric, agak mencibir. “Ya ampun Ziva, saya berharap kamu hidup bahagia dan menemukan pria baik, tapi kenapa malah Arda yang kamu sebut sebagai calon suami? Kamu berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia.” “Apa salah Arda?” Ziva sangat menuntut jawaban. “Kesalahan dia ... bisa-bisanya gancet sama Lika pada malam sebelum saya dan Lika menikah.” Sontak Ziva melebarkan matanya lantaran sangat terkejut. “Apa?!” “Udah paham sekarang? Terlepas dia mungkin berdalih udah berubah, tapi bukan berarti kesalahan fatalnya di masa lalu bisa terhapuskan. Andai dia bukan teman dekat saya, mungkin lima tahun lalu saya nggak akan sebegitu bencinya pada Arda bahkan Lika. Ah, bahkan sebenarnya saya udah melupakan semua itu, saya nggak pernah mendengar kabar mereka lagi dan itu bagus.” Elric melanjutkan, “Sayangnya, saya malah dipertemukan lagi dengannya di sini. Berani-beraninya dia datang yang seakan membuka luka lama yang saya pikir udah sembuh.” Pria itu masih berbicara, “Tapi itu bukan satu-satunya masalah. Menurut saya, masalah utama yang paling mengusik adalah ... kenapa dia harus datang bersama kamu? Rasanya nggak masuk akal dia menggandengmu sebagai calon istrinya.” Elric memang tak pernah menyangka akan bertemu Ziva lagi. Namun, ia lebih tidak menyangka dengan kenyataan yang dilihatnya. Sungguh, kenyataan itu cukup mengusik ketenangannya. Bagaimana mungkin Ziva bersama Arda? Apa Arda memang sengaja ingin memiliki apa yang pernah Elric miliki? Ziva yang masih sangat syok, tak menjawab apa-apa. Wanita itu lebih memilih bergegas pergi meninggalkan Elric. Sumpah demi apa pun, Ziva masih tak habis pikir ... kenapa dunia bisa se-sempit ini? Dari sekian banyak kemungkinan tentang pria yang menjadikannya pacar bohongan, kenapa harus pria yang terlibat skandal malam itu? Dan bodohnya, Ziva tak tahu apa-apa. “Kamu mau ke mana?” tanya Elric seraya mengejar Ziva, bahkan mencoba menahan tangan mantan istrinya itu. “Lepasin! Jangan pegang-pegang!” ucap Ziva, setengah berteriak. Sontak, Elric terkejut sehingga langsung melepaskan tangan Ziva. “Maaf, saya hanya nggak ingin kamu pergi karena kita belum selesai bicara.” “Tolong biarkan aku pergi,” ucap Ziva, tanpa mau menanggapi kalimat terakhir Elric. Melihat ekspresi Ziva yang seperti marah, Elric tak punya pilihan selain melepaskan wanita itu. Selama beberapa saat, Elric masih berdiri saat Ziva berjalan menjauh. Wanita itu berjalan menuju gerbang, jelas sekali ingin meninggalkan tempat ini sekalipun Arda masih di dalam. “Ya ampun El, gue cari ke mana-mana. Rupanya lo di sini,” ucap Bams yang memang sejak tadi mencari keberadaan Elric. “Tadi ada yang bilang lo langsung cabut pas ngelihat Arda tiba-tiba datang,” sambungnya. “Mereka lagi apa?” tanya Elric kemudian. “Ngasih pelajaran ke Arda. Lo mau ikut?” “Sejak kapan gue punya energi untuk itu?” balas Elric. “Lo keluarin mobil aja, gue tunggu di depan. Gue pengen pulang,” sambungnya. “Hah? Pulang? Di dalem lo ditungguin sama—” “Gue mau pergi dari sini. Titik,” tegas Elric sambil mulai melangkah, membuat Bams mau tidak mau bergegas menuju mobil karena atasan sekaligus sahabatnya itu tak mau dibantah. Tak sampai sepuluh menit, mobil yang Bams kemudikan mulai keluar dari area parkir menuju keluar gerbang di mana Elric sudah menunggu di sana. Mobil itu kemudian berhenti tepat di hadapan Elric yang langsung naik. Tanpa membuang-buang waktu, mobil langsung melaju meninggalkan tempat itu. “Lo punya tugas baru,” ucap Elric kemudian. “Apa itu?” “Cari tahu segala tentang Ziva.” “Sebentar, maksudnya mantan istri lo? Istri kontrak?” “Ya. Memangnya siapa lagi?” balas Elric. “Pokoknya cari tahu dia pergi ke mana pasca bercerai sama gue, juga tentang apa yang dia lakukan selama lima tahun terakhir. Cari tahu segalanya termasuk apa yang dia lakukan sekarang. Gue mau informasinya lengkap selengkap-lengkapnya.” “Oke, gue bakal cari tahu. Tapi gue boleh tahu alasannya, kan? Kenapa tiba-tiba pengen tahu kabar mantan istri lo? Setahu gue, semenjak kalian cerai ... lo nggak pernah penasaran.” “Masalahnya gue penasarannya sekarang. Jadi cari tahu yang bener.” Jika Elric sudah mengatakan itu, artinya Bams tak punya kesempatan lagi untuk membantah. *** Sudah beberapa hari berlalu sejak Ziva menemani Arda sebagai pacar bohongan pria itu. Jujur saja, Ziva masih tak menyangka kalau Arda adalah teman Elric yang selingkuh dengan Lika lima tahun lalu. Sumpah demi apa pun, sampai sekarang pun Ziva masih syok. Namun yang pasti, wanita itu sudah tidak menanggapi pesan dari Arda lagi. Sekalipun Ziva tidak ada urusannya dengan masa lalu Arda, tetap saja firasat Ziva mengatakan sebaiknya ia menjauh dari pria itu. Makanya Ziva tak pernah merespons pesan maupun panggilan Arda. Bahkan, ia rencananya mau memblokir nomor pria itu. Meski sampai detik ini Ziva masih bertanya-tanya ... sebenarnya Arda tahu atau tidak kalau Ziva adalah mantan istri Elric? Jika tahu, apa pria itu sengaja mengajaknya ke pesta itu untuk memanas-manasi Elric? Hanya saja, apa untungnya? Apa yang Arda dapatkan dari pamer memiliki hubungan dengannya? Apa pria itu merasa puas lantaran membuat Elric terusik? Namun, bagaimana jika ternyata Arda tak tahu apa-apa dan ini hanyalah kebetulan? Ah, entahlah. Maka dari itu hal yang sebaiknya Ziva lakukan adalah menjauh dari Arda. Ziva bahkan mulai kepikiran untuk pulang kembali ke Senjaratu. “Tenang Ziva tenang. Toh Mas Elric nggak nyariin aku, kan?” batin wanita itu. Saat ini Ziva duduk di kafe bersama Yurita, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan yang mewakili Sunrise Talent Management, agensi yang menaungi dan mendukung perjalanan karier para artis di bawah bimbingannya. Ada sejumlah bintang ternama yang bernaung di bawah di agensi tersebut. Yurita awalnya menghubungi Ziva melalui contact person yang tertera di bio media sosialnya. Sebenarnya itu nomor Ziva yang secara khusus digunakan untuk berkomunikasi terkait paid promote, endorsement maupun kerja sama lainnya. Ya, Ziva memang punya dua nomor : satu sebagai nomor pribadinya sedangkan satunya lagi seolah-olah admin atau manajer yang akan menangangi berbagai kerja sama padahal itu nomornya sendiri. Sejauh ini, Ziva memang mengerjakan semuanya sendiri—mengatur jadwal, negosiasi kontrak dan honor, menginformasikan rate card, branding dan promosi, mengelola keuangan serta lain-lainnya. Bahkan, Ziva membuat konten, mengedit hingga meng-upload oleh dirinya sendiri. Dan semuanya Ziva kerjakan dalam waktu yang hampir bersamaan. Benar-benar multitasking. Ziva memang terkadang kerepotan, tapi sejauh ini wanita itu masih sanggup melakukan semuanya sendiri. Dan sekarang Yurita menawarkan Ziva untuk bergabung di Sunrise. “Sebelumnya terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya aku perlu waktu untuk mempertimbangkannya dulu,” ucap Ziva se-sopan mungkin. Setidaknya Ziva tidak langsung menolak mentah-mentah untuk menghargai. Lagi pula tak ada salahnya ia mempertimbangkan tawaran Yurita. Barangkali saja ia sewaktu-waktu berubah pikiran. Bukannya apa-apa, Ziva tak bisa memungkiri kalau terkadang ia juga ingin karier-nya di dunia hiburan terus berkembang. Apalagi Sunrise menjamin pendampingan karier untuk Ziva, memastikan reputasinya bagus hingga meringankan beban kerja wanita itu. Jujur saja, Ziva agak tertarik meski masih ada keraguan di hatinya. “Biarlah, semua keputusan bagaimana nanti,” batin wanita itu. “Kabari saya kapan pun kalau kamu tertarik. Dengan senang hati, saya bersedia menunggu,” ucap Yurita. *** Setelah berpisah dengan Yurita, Ziva dihubungi oleh wanita yang selama beberapa hari ini intens berkomunikasi dengannya terkait les piano. Wanita itu bernama Puji yang sudah mendaftarkan putrinya untuk Ziva ajari bermain piano. Sebelum Ziva resmi mengajar, wanita bernama Puji itu ingin bertemu dengan Ziva dulu. Ziva pun setuju karena memang biasanya ada pertemuan dulu dengan orangtua sebelum dirinya resmi menjadi guru les seorang anak. Namun, berhubung ajakannya termasuk mendadak, Ziva tentu dalam keadaan tidak siap. Maksudnya, Ziva sedang berpenampilan kasual sekarang—dress santai yang lebih cocok digunakan untuk jalan-jalan atau hangout, bukan bertemu orangtua yang sebisa mungkin Ziva sebaiknya berpakaian lebih formal. “Santai saja, Ziva. Toh saya juga di rumah hanya mengenakan pakaian santai,” ucap Puji di seberang telepon sana. “Kalau bisa saya ingin bertemu denganmu hari ini juga. Lebih cepat lebih baik, bukan? Soalnya anak saya udah nggak sabar ingin berlatih denganmu.” Puji melanjutkan, “Kalau kamu setuju meeting di unit apartemen saya hari ini ... saya akan daftarkan nama kamu ke resepsionis supaya kamu nanti dapat kartu tamu sehingga bisa masuk dan mengakses lift. Atau bila perlu saya jemput kamu ke lobi dan kita naik bareng ke lantai di mana tempat tinggal saya berada.” Pada akhirnya, Ziva pun setuju. Tiba di sana, Ziva langsung berbicara dengan resepsionis. Namanya memang sudah didaftarkan sebagai tamu sehingga diberikan kartu akses lift untuk sementara. Ziva juga sudah memastikan unit yang ditujunya milik seorang wanita bernama Puji. Akhirnya, di sinilah Ziva berdiri. Jemarinya menekan bel cukup lama, menanti detik-detik pintu apartemen di hadapannya terbuka. Sampai kemudian, pintu perlahan terbuka. Ziva sudah mempersiapkan diri untuk tersenyum hangat menyapa Puji, tapi spontan batal saat menyadari yang membuka pintu tidak sesuai dugaannya. Ziva tidak masalah jika yang membuka seorang pria, bisa jadi itu suami Puji. Masalahnya adalah yang membuka pintunya adalah Elric! Berapa besar kemungkinan Ziva salah alamat? Kalaupun Ziva benar-benar salah alamat, haruskah kebetulannya se-konyol ini? “Kamu mencari Puji, kan?” tanya Elric. “Kamu nggak salah. Ini memang apartemennya. Ayo silakan masuk,” sambungnya. Tunggu, apa Puji itu istrinya Elric? Jika iya, kekonyolan macam apa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN