Bab 17 - Deg-degan

2100 Kata
Ziva sama sekali tak pernah bermimpi untuk menjadi selebritas. Jangankan bermimpi, kepikiran pun tidak. Namun, kehidupan yang dijalaninya lima tahun belakangan, seolah menuntunnya ke arah sana. Terlebih Ziva pun menikmati segala prosesnya. Semakin dewasa, Ziva juga semakin percaya diri sehingga ia bisa dibilang siap menjadi seseorang yang terkenal. Bahkan, Ziva sebenarnya agak tertarik untuk bergabung dengan management yang akan membawa namanya terbang tinggi, tapi benarkah ini keputusan yang tepat? Ah, kalau dipikir-pikir, ucapan Laras ada benarnya juga. Kenapa Ziva harus memedulikan keberadaan Elric? Andai Ziva terus-terusan merasa takut upaya move-on-nya gagal, itu artinya Ziva harus siap dengan kariernya yang stagnan dan tidak akan berkembang. Lagi pula Ziva seharusnya tak mengkhawatirkan apa pun. Ia sudah meminta Arda untuk menjadi pacar pura-puranya. Seharusnya Elric tak punya alasan untuk mendekatinya lagi, bukan? Ciuman di apartemen Bams, akan Ziva anggap kesalahan yang tak akan terulang. Ya, itu adalah yang terakhir kalinya. Ia akan mencoba melupakan ciuman panas tak direncanakan itu. Meski Ziva juga tak bisa memungkiri kalau ia terkadang masih membayangkannya. Namun, sekali lagi ... Ziva tidak akan terbuai. Selama ini Ziva beranggapan bertemu Elric akan membuat upaya move-on yang diperjuangkannya selama lima tahun ini menjadi buyar. Itu sebabnya bertemu pria itu adalah salah satu yang paling Ziva takuti. Setelah bertemu Elric lagi, Ziva akui dirinya masih berdebar hebat, tapi itu bukanlah akhir dari segalanya. Ziva sekarang punya perisai yang akan melindunginya sekaligus mencegahnya untuk kembali terbuai. Benar, jika Ziva sudah memasang batasan ... sehingga tidak ada yang namanya melewati batas lagi. Dengan adanya Arda sebagai pacar pura-puranya, Ziva yakin, Elric pun perlahan akan menjauh. Ziva hanya perlu mengabaikan segala tentang Elric. “Fokusmu sekarang adalah karier, Ziv. Arda akan membantumu agar Elric menjauh. Hanya itu,” gumam Ziva, lebih kepada dirinya sendiri. Ziva akan membuktikan pada dunia bahwa dirinya sudah seratus persen move-on dari Elric dan sedikit pun tidak ada perasaan yang tersisa sekalipun mereka bertemu lagi. Benar kata Laras, jangan sampai mantan menghambat masa depan. Jangan sampai! Ziva yang sudah tidak punya keraguan lagi, akhirnya menghubungi perwakilan Sunrise yang sempat bertemu langsung dengannya. Ia bahkan lupa kalau waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, panggilannya sudah telanjur terhubung, hanya perlu menunggu untuk diangkat. Ziva tidak mau labil lagi, makanya lebih baik ia memberi keputusan malam ini. Jika tidak, mungkin Ziva akan terus mempertimbangkan dan jiwa labilnya bisa membuat keyakinannya menjadi ragu lagi. Jadi daripada bimbang semalaman, lebih baik Ziva dengan penuh keberanian memberi keputusan sekarang juga. “Halo, Ziva. Dengan Yurita di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Suara Yurita di seberang telepon sana terdengar sangat ramah, nyaris tak jauh berbeda dengan saat mereka bertemu tadi siang. “Hmm, sebelumnya maaf karena aku menghubungi malam-malam.” “Bukan masalah, Cantik. Ini bahkan baru jam sembilan. Seandainya kamu menghubungi jam sepuluh pun, akan saya angkat dengan senang hati,” balas Yurita. “Ngomong-ngomong, kamu menghubungi bukan tanpa alasan, kan?” lanjutnya bertanya. “Ini tentang tawaran Bu Yurita tadi.” “Gimana? Apa kamu sudah memutuskan?” “Aku bersedia gabung dengan Sunrise.” “Serius? Wah, senangnya kalau begitu.” “Maaf aku sempat bimbang, tapi kini aku udah nggak ragu lagi.” “Kalau begitu, gimana kalau besok kita bertemu untuk membicarakan kontraknya?” “Boleh,” jawab Ziva. “Kamu boleh informasikan menginap di hotel mana, supaya besok perwakilan kami bisa menjemputmu ke sana.” “Baik, Bu.” Ziva kemudian menyebutkan hotel tempat dirinya menginap. “Terima kasih ya, Ziva. Terima kasih karena telah memutuskan untuk bergabung dengan kami. Semoga kerja sama kita bisa terjalin dengan baik,” ucap Yurita. “Besok kita bicarakan semuanya, termasuk tempat tinggal kamu untuk ke depannya.” Ziva tahu, mustahil ia tinggal di hotel selamanya. Itu sebabnya bergabung dengan management sepertinya akan menjadi keputusan yang tepat karena segala kebutuhan Ziva akan diurus oleh Sunrise, termasuk tempat tinggal. Padahal Ziva secara teknis belum benar-benar bergabung. Kalaupun sudah sepenuhnya bergabung, tidak ada jaminan apakah Ziva bisa memberikan keuntungan untuk mereka. Namun, mereka tampaknya tidak peduli akan hal itu. Ziva jadi merasa sangat disambut hangat dan tentunya begitu dihargai. “Kalau begitu sampai jumpa besok ya, Bu.” “Saya akan kabari kalau perwakilan Sunrise mau menjemput kamu.” “Bisakah Bu Yurita memberi perkiraan jam berapa? Takutnya aku belum siap-siap.” “Hmm, jam sepuluh pagi aja gimana?” “Oke, Bu. Sekali lagi, sampai jumpa besok.” “Selamat malam, Ziva. Selamat beristirahat.” Sambungan telepon pun terputus. Setelah itu, Ziva merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat. “Aku harap, keputusanku bergabung dengan Sunrise ... bukanlah keputusan yang akan aku sesali nantinya,” batin wanita itu. *** Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat Arda bergabung dengan teman-temannya di sebuah rooftop yang seolah menjadi basecamp mereka saat ingin berkumpul. Arda memang belum lama bergabung, tapi keberadaannya sangat dihargai oleh teman-teman barunya itu. Mereka sedikit pun tidak peduli dengan skandal yang terjadi lima tahun lalu. Begitu juga Arda yang tidak peduli dengan orientasi seksual mereka—beberapa temannya menyimpang hingga butuh pacar palsu untuk dikenalkan pada orangtua masing-masing. Hal itu menjadi cikal bakal Arda mengenal Ziva. Arda diperkenalkan oleh mereka yang sebelumnya sudah lebih dulu menjadikan Ziva sebagai pacar bohongan. “Gue sempat khawatir karena beberapa hari lo menghilang,” ucap Ferdy. Bisa dibilang Ferdy-lah yang membuat Arda bergabung dan menjadi bagian dari tongkrongan ini. Arda pertama kali berkenalan dengan Ferdy beberapa tahun lalu saat Arda pindah keluar kota. Mereka sempat menjadi tetangga kosan di sana dan secara otomatis berteman akrab. Saat Ferdy pindah ke Jakarta, Arda tetap bertahan dalam pelariannya. Sampai akhirnya, setelah lima tahun berlalu, barulah Arda punya keberanian untuk kembali ke kota ini. Itu pun ia sambil berharap-harap cemas agar skandalnya telah terlupakan. Namun, ternyata tak semudah itu. Dirinya masih sangat dibenci oleh teman-teman lamanya. “Apalagi lo menghilangnya tepat di hari lo bilang mau ketemu temen-temen lama lo,” tambah Ferdy. “Dan sekarang, setelah melihat wajah lo masih ada sisa babak belur ... gue jadi paham dengan apa yang terjadi sama lo beberapa hari lalu. Lo dikeroyok ya di sana?” sambung pria itu. “Sejak awal gue udah menduga kalau mustahil bisa diterima lagi. Mereka semua membenci gue,” balas Arda. “Makanya gue nggak berani datang sendiri, untungnya kalian mengenalkan gue sama Ziva buat jadi pacar bohongan gue. Ya meskipun ending-nya jadi nggak enak sendiri sama dia, karena situasinya kacau banget di pesta. Dia pun pulangnya sendiri,” lanjut pria itu. “Udahlah, lo mendingan nongkrongnya di sini aja.” “Gue sadar, sih, nggak mungkin bisa jadi bagian dari mereka lagi. Gue murni pengen minta maaf doang soalnya dulu gue langsung kabur. Gue boro-boro sempat minta maaf.” “Tapi mereka nggak maafin lo. Buktinya lo digebukin, kan?” Ferdy balik bertanya. “Udahlah, seenggaknya lo udah lebih tenang karena udah minta maaf. Urusan dimaafin atau nggak, biar urusan mereka. Sekarang intinya lo nggak butuh teman kayak mereka. Mendingan lo di sini aja,” lanjutnya. “Asal jangan bujuk gue ikut-ikutan menyimpang juga,” kekeh Arda, bercanda. “Sialan. Di sini mana ada bujuk membujuk yang kayak gitu? Lo kira gue juga menyimpang?” Arda kembali tertawa. Ia tahu betul Ferdy adalah pria normal. “Asal lo tahu, di sini cuma ada tiga orang yang kayak gitu, makanya sempat minta bantuan Ziva buat jadi pacar sehingga bisa dikenalin ke ortu. Sisanya semua normal termasuk lo sama gue,” kata Ferdy lagi. “Dan gara-gara mereka, gue bisa kenal Ziva. Jujur, gue beneran suka sama dia.” Ferdy mengernyit. “Lo beneran suka sama Ziva?” “Ya, gue pengen mengenal dia lebih jauh lagi.” “Sayangnya nggak bisa. Gue dengar dia mau bantu jadi pacar bohongannya sekali aja. Setelah pesta lo digebukin kayak gitu dan dia pulang sendiri, lo pikir dia mau ketemu lo lagi? Gue yakin dia nggak bakal merespons lo sekalipun dihubungi berkali-kali. Malah bisa jadi lo bakalan diblokir nomornya.” “Awalnya gue juga mikirnya kayak gitu, Fer. Apalagi chat yang gue kirim nggak ada satu pun yang di-read. Gue telepon pun nggak dijawab. Padahal sumpah ... gue pengen jelasin apa yang terjadi malam itu, sekaligus minta maaf juga karena gue meninggalkan kesan yang buruk. Dia pasti nggak nyaman banget di pesta malam itu.” Arda melanjutkan, “Tapi secara nggak terduga, setelah beberapa hari mengabaikan pesan dan telepon dari gue, akhirnya dia merespons juga. Kami pun ketemu dan gue jelasin semuanya, termasuk kejadian lima tahun lalu.” “Lo jujur soal skandal gancet?” Ferdy sontak terkejut. “Dia udah denger duluan di pesta, gue nggak punya pilihan selain jujur,” jelas Arda. “Lo pikir gue nggak takut? Gue sebenarnya takut buat terus terang, tapi ajaibnya dia nggak mempermasalahkan itu.” “Sumpah?” Ferdy semakin tercengang. “Iya. Entah sebenarnya dia ilfil atau nggak, kita nggak tahu isi hati orang. Cuma yang pasti dia nggak menunjukkan rasa jijiknya. Dia bersikap biasa aja, malah nggak keberatan kalau kami tetap berteman,” jelas Arda lagi. Dalam situasi begini, Arda mustahil blak-blakan kalau situasi antara dirinya dengan Ziva kini terbalik—Ziva-lah yang butuh pacar bohongan entah apa alasannya. Arda rasa tidak perlu menceritakan dengan detail pada temannya. Biarlah hanya ia dan Ziva saja yang tahu soal itu. Arda yakin, Ziva pasti keberatan jika status pacaran bohongan mereka ada yang mengetahui sekalipun itu teman Arda. “Dan lo serius mau deketin Ziva beneran? Yang tadinya lo butuh dia jadi pacar pura-pura, bakalan jadi pacar beneran?” “Maunya, sih, gitu. Yang penting gue usaha aja dulu,” jawab Arda. “Intinya gue mau berusaha mengenal dia lebih jauh. Lo tahu sendiri setelah skandal itu, gue nggak pernah deketin cewek mana pun. Bisa dibilang ... Ziva yang pertama.” “Arda,” panggil Ferdy kemudian. “Asal lo tahu, belakangan ada yang nyari tahu tentang lo dan Ziva.” Arda masih terdiam karena yakin Ferdy belum selesai bicara. “Gue sempat heran, kenapa dia kayak ngorek-ngorek banget segala tentang hubungan lo dan Ziva. Dia nggak tahu aja kalau kita se-dekat ini,” kata Ferdy lagi. “Dia jelas mengira lo dan Ziva menjalin hubungan sungguhan. Namanya Bams. Lo pernah denger? Itu temen lama lo, kan?” “Bams?” Arda bertanya untuk memastikan. “Ya, meskipun dia nggak menyebutkan nama, tapi gue sengaja mencari tahu. Ternyata namanya Bams.” “Dia asisten pribadinya Elric, teman gue yang gagal menikah sama Lika gara-gara gue,” ucap Arda. “Kami semua berteman, tapi Bams itu sekaligus bekerja untuk Elric sampai sekarang.” “Bukan main. Dia masih dendam sama lo, sampai nyari tahu begitu,” balas Ferdy. “Lo harus hati-hati,” tambahnya. “Lo jawab apa? Saat dia bertanya hubungan gue sama Ziva.” “Gue jawab sesuai yang lo mau dong. Kalian bukan sekadar berpacaran, tapi memang mau nikah,” jawab Ferdy. “Gue nggak salah jawab, kan?” “Bagus. Elric mungkin nggak rela kalau gue sama Lika. Makanya mencoba mencari tahu, dengan siapa gue sekarang,” ucap Arda. “Syukurlah dia tahunya gue sama Ziva. Gue nggak bisa membayangkan se-kesal apa dia kalau misalnya gue masih sama Lika,” lanjutnya. “Tunggu, bukannya dia udah nikah sama perempuan lain di hari yang harusnya dia menikah sama Lika?” tanya Ferdy. “Gue dengar, sih, begitu. Cuma gue jamin itu pernikahan buat menyelamatkan reputasi keluarga aja. Bahkan, gue nggak tahu siapa perempuan yang dia nikahi karena gue langsung pergi meninggalkan kota ini.” Arda masih berbicara, “Gue juga nggak tahu apakah rumah tangga Elric dengan pengganti Lika masih langgeng atau udah pisah. Sumpah, gue beneran nggak pernah kepo.” Pembicaraan Arda dan Ferdy spontan terhenti saat ponsel di saku Arda bergetar lama tanda ada panggilan masuk. Arda segera merogoh sakunya dan tidak butuh waktu lama, benda pipih itu sudah berada dalam genggamannya. Selama beberapa saat, Arda menatap deretan nomor tak dikenal yang terpampang di layar. “Kenapa nggak diangkat?” tanya Ferdy heran. Arda tidak menjawab. Ia kemudian menggeser ke layar berwarna hijau yang sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan temannya barusan. Detik berikutnya, terdengar suara seorang pria di seberang telepon sana. “Arda ini Bams. Elric pengen ketemu sama lo.” “A-apa?” Sungguh, Arda nyaris tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. “Elric pengen ketemu gue?” tanyanya memastikan. “Kenapa? Lo nggak mau?” Bams malah balik bertanya. “Gue mau,” jawab Arda tanpa keraguan. “Kalau begitu, detail waktu dan tempatnya, gue bakal kirim lewat pesan,” pungkas Bams sebelum memutus sambungan telepon mereka. Elric? Sungguh ingin bertemu? Serius, Arda jadi sangat deg-degan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN