Bab 16 - Tergoda

1730 Kata
“Ahhh....” Elric sudah tak bisa menahan diri lagi. Saat ini, pria itu sudah berada di atas ranjang dengan hasrat yang sangat sulit untuk dikendalikan. Sementara itu, di bawah tubuhnya, berbaring seorang wanita yang juga nyaris tanpa busana sepertinya—wanita itu hanya memakai lingerie berwarna merah menyala. “Oh, Ziva. Ini nikmat,” racau Elric. Saat sedang nikmat-nikmatnya, Elric tiba-tiba didorong sehingga tubuhnya tersungkur ke lantai. “Aww!” pekik pria itu seraya memegangi pantatnya yang mendarat lebih dulu. Rasa sakit membuat Elric spontan membuka matanya. Tunggu, membuka mata? Ya, rupanya Elric barusan hanya bermimpi. Mimpi yang cenderung vulgar karena bisa-bisanya memimpikan sedang melakukannya dengan sang mantan istri. Mimpi yang membuatnya terjatuh ke lantai. Apa-apaan? Sungguh, Elric pikir lama-lama dirinya bisa benar-benar gila kalau begini terus. Bagaimana tidak, Elric nyaris tak pernah membayangkan yang aneh-aneh saat masih menjadi suami Ziva. Namun, sekarang kenapa bisa begini? Kenapa ia bisa mimpi se-m***m itu? Ah, hampir lupa. Elric hampir lupa, hanya satu kali dirinya pernah berpikiran ‘m***m’ tentang Ziva yaitu saat malam pertama mereka setelah resmi menikah. Di kamar hotel, Elric secara otomatis terpancing saat Ziva hanya memakai lingerie. Setelah itu, dengan sangat terpaksa Elric melakukannya secara mandiri demi memuaskan diri sendiri di kamar mandi. Namun, Elric jamin itu pertama dan terakhir kalinya ia berpikiran yang aneh-aneh tentang Ziva. Baru sekarang ia kembali berpikiran omes tentang wanita itu. Mungkin saking seringnya Elric stalking media sosial Ziva dengan cara berlebihan sampai-sampai terbawa mimpi seperti barusan. Hanya saja, alih-alih berhenti, Elric malah stalking Ziva lagi saat memegang ponselnya. Ya, saat ini pria itu sudah beranjak dari lantai. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Elric kembali ke atas tempat tidur. Tangannya kini menggenggam ponsel yang layarnya terpampang akun Ziva. Fokus Elric kini tertuju pada unggahan terakhir mantan istrinya itu sekitar dua jam yang lalu. Ziva mengunggah buket bunga mawar merah yang sangat cantik dengan caption ‘thank you’ lengkap dengan tanda hati berwarna merah. “Jadi, mereka ketemuan lagi?” kesal Elric. Elric masih tak habis pikir, kenapa Ziva tetap mau menjalin hubungan dengan Arda setelah tahu kebenarannya? Sungguh, itulah yang membuat Elric semakin kesal. Sikap Ziva benar-benar tidak sesuai ekspektasi Elric. Ia pikir mantan istrinya itu akan jijik pada Arda, tapi ternyata malah sebaliknya. Konyolnya, hal itu semakin membuat pikiran Elric terusik. Ada perasaan tak rela yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Intinya, Elric ingin mereka berpisah. Titik. Elric jadi ingat pertanyaan Bams ... jika yang menjadi pasangan Ziva bukan Arda, apakah dirinya akan bersikap seperti ini? *** “Hah? Kamu ditawarin gabung sama Sunrise Talent Management?” Laras, teman Ziva di seberang telepon sana langsung heboh begitu mendengar penawaran yang Ziva terima, kentara sekali kalau sangat antusias. “Iya. Enggak nyangka banget aku bakal ada di titik yang ditawarin gabung management artis,” kekeh Ziva. “Kalau lihat aku lima tahun ke belakang, sama sekali nggak kepikiran bakal begini.” “Tapi nggak kamu tolak, kan?” “Enggak langsung aku tolak lah. Aku sedikitnya harus menghargai tawaran itu, makanya bilang mau memikirkannya dulu. Berasa nggak sopan banget kalau aku langsung tolak mentah-mentah.” “Berarti ujung-ujungnya kamu mau menolak ini?” Nada bicara Laras terdengar kaget, sedikit kecewa juga. “Ya iyalah, kenapa kamu berpikir aku bakalan menerima?” Ziva balik bertanya. “Ya ampun, Ziva. Kamu pasti tahu, kan, Sunrise itu menaungi artis siapa aja?” “Aku tadinya nggak tahu, tapi sekarang tahu karena sempat nyari informasinya dulu. Ternyata banyak artis terkenal di situ. Tapi bukan berarti aku mau satu payung sama mereka. Kalau aku menerima tawaran ini ... artinya aku harus apa coba? Aku harus beneran menetap di sini sedangkan aku ogah. Aku mau pulang ke Senjaratu.” “Berarti kamu mau lepasin kesempatan bagus ini? Kesempatan yang belum tentu datang dua kali?” “Aku udah cukup menikmati hidupku yang sekarang. Kamu tahu sendiri.” “Memang iya kamu menikmati hidupmu, tapi jangan lupa ... kamu sering banget bilang pengen kariermu semakin berkembang. Apa kamu lupa sering bilang kayak gitu?” “Tapi kalau caranya aku harus menetap di sini, aku nggak mau.” “Padahal ini kesempatan bagus banget, Ziva. Coba pikirin sekali lagi deh.” “Aku udah mikir berulang kali dan jawabannya tetap sama. Aku harus meninggalkan tempat ini dan kembali ke Senjaratu,” tegas Ziva. Terlebih setelah bertemu Elric lagi, membuat Ziva semakin mantap untuk kembali ke Senjaratu. Ia tak mau berurusan lagi dengan pria yang seolah tanpa dosa menciumnya. “Pasti ada sesuatu, kan? Jujur aja.” Laras seolah bisa langsung tahu kalau ada yang tak beres di sini. Laras melanjutkan, “Mengingat sebelumnya pas kita teleponan kamu seolah masih betah banget di sana, aku heran sekarang kamu bersikeras mau balik. Apa terjadi sesuatu? Soalnya aku yakin kalau nggak ada sesuatu yang terjadi ... kamu cenderung bakal menerima tawaran Sunrise. Kamu itu salah satu orang yang kukenal yang menyukai tantangan dan selalu ingin mencoba hal baru.” “Aku mau tarik kata-kata aku yang sebelumnya, bahwa sebulanan di sini ... aku sama sekali nggak bertemu siapa pun yang aku kenal. Itu sebabnya aku menetap cukup lama dan cenderung betah,” jelas Ziva. “Kamu ketemu siapa? Ibu tiri kamu?” Laras memang tahu bagaimana kisah Ziva karena Ziva menceritakannya. “Bukan.” “Kamu bertemu cowok yang sempat bikin kamu gagal move-on?” Ziva memang menceritakan tentang Elric serta alasan dirinya melarikan diri ke Senjaratu. Bisa dibilang, Laras adalah satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana kisah Ziva dan Elric dari awal bermula hingga akhirnya selesai. Termasuk mengetahui Ziva pernah menikah dengan Elric lalu bercerai. Ya, Laras satu-satunya yang tahu fakta tersebut. Laras juga bisa menjaga rahasia dengan baik sehingga tidak memberi tahu siapa pun segala yang pernah Ziva ceritakan. Makanya tidak heran semua orang selain Laras tahunya Ziva belum pernah menikah, apalagi status di KTP-nya belum pernah diganti sejak menikah hingga bercerai. “Iya, aku nggak nyangka bertemu sama dia lagi.” “Tapi kamu udah move-on, kan? Harusnya pertemuan kalian nggak berpengaruh sedikit pun,” kata Laras. “Tapi dengan keadaan kamu sekarang, kayaknya dia deh yang bakal terpesona sama kamu,” sambungnya. “Jangan mengada-ada.” “Aku serius. Tapi kalian sempat mengobrol, kan?” “Ya gitu deh. Hanya obrolan biasa.” Bukannya Ziva bermaksud berbohong. Ia hanya tidak sedang ingin menjelaskan apa pun tentang interaksi anehnya dengan sang mantan suami. Bagaimana tidak, pembahasannya pasti akan panjang. Apalagi ini ada hubungannya dengan Arda juga. “Tunggu, jangan bilang kamu melewatkan kesempatan buat gabung di Sunrise hanya karena bertemu dia lagi.” “Bukannya begitu, aku lebih betah di Senjaratu. Kamu tahu sendiri.” “Tapi serius, seperti yang aku bilang tadi ... di posisi kamu sekarang, justru normalnya dia yang ngejar-ngejar kamu. Ingat, Ziva Naomy yang sekarang beda banget sama yang dulu.” Tidak. Pemikiran seperti itulah yang sangat Ziva hindari. Ia tak mau tenggelam lagi dalam dugaan yang membuatnya terjerumus dalam kesalahpahaman seperti dulu. Selain itu, Ziva takut upaya move-on yang dilakukannya selama lima tahun ini menjadi buyar sehingga menurutnya lebih baik menghindari saja. Andai kembali ke Senjaratu, bukankah kecil kemungkinan bagi Ziva untuk bertemu Elric lagi? Makanya selagi Ziva di sini dan menyelesaikan segala tanggung jawabnya, sebisa mungkin ia akan menutup segala komunikasi apa pun dengan Elric. Terlebih Ziva bersikap seolah dirinya pacar Arda, bukankah itu cukup untuk membuat Elric menjaga jarak darinya? “Kalau dia ternyata suka sama kamu, gimana?” tanya Laras lagi. “Enggak mungkin. Aku tahu betul dia gimana dan aku nggak mau terbuai lagi. Aku nggak mau tertipu seperti dulu,” jawab Ziva. “Pokoknya aku mau balik ke Senjaratu kalau urusan les beres. Aku juga udah berencana close pendaftaran, mau beresin yang udah telanjur bayar aja,” lanjut wanita itu. “Tadi kamu bilang sempat ngobrol tapi biasa aja. Itu artinya aman, kan, Ziv? Maksudku ... nggak ada yang perlu kamu khawatirkan,” ucap Laras. “Serius, aku hanya menyayangkan kalau kamu melewatkan kesempatan gabung sama Sunrise hanya karena ketemu mantan. Takutnya kamu menyesal.” “Bentar, bentar ... ini kamu serius bilang gitu? Bukannya kamu yang pengen aku cepetan balik ke Senjaratu lagi? Katanya kangen. Tapi dengan kamu menyuruhku menerima tawaran Sunrise, artinya aku bakal lebih lama di sini.” “Karena aku juga mau nyusul ke Jakarta,” jawab Laras. “Jadi aku berharap kamu tetap di sana.” “Hah? Kamu ngapain?” “Aku belum cerita, kan? Aku sebenarnya dijodohin sama anak dari kerabatnya ortuku. Rencananya aku bakal melakukan pendekatan dengan calon suamiku dan tempatnya nggak memungkinkan kalau di Senjaratu. Makanya aku yang nyusul,” jelas Laras. “Timing-nya kayak pas banget kamu menetap lama di sana. Jadi aku makin semangat,” lanjutnya. “Ya ampun, kenapa baru bilang?” “Rencananya aku mau bilang pas kamu balik ke Senjaratu. Sekalian mau ngajakin kamu ikut lagi ke Jakarta. Dan ternyata kamu barusan ngasih tahu dapat tawaran dari Sunrise. Maksudnya, ini kayak kebetulan banget loh. Kita bisa sama-sama nanti.” Laras kembali berbicara, “Jadi, please abaikan soal pertemuan kamu sama mantan. Terima aja tawaran dari Sunrise-nya.” Ziva masih terdiam, sedang mempertimbangkan keputusannya. “Terima aja, oke? Ingat, karier kamu perlu berkembang. Aku percaya sahabatku ini bisa jadi artis terkenal.” “Ya ampun, jangan berlebihan.” “Serius, Ziva. Kamu pintar akting loh, buktinya kamu jago banget menyembunyikan perasaan kamu selama menjadi istrinya. Selain itu, dengan kamu bersinar dan terkenal, secara otomatis dia bakal melihat keberadaan kamu. Ayo buat mantanmu itu menyesal karena udah membiarkan Ziva-ku ini cinta sendirian.” Laras kembali berbicara, “Apalagi kalau kamu bahagia sama laki-laki lain. Dia mungkin bakal terusik atau bahkan kepanasan sendiri. Pokoknya dia harus menyesal karena membiarkan kamu merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Ucapan Laras membuat Ziva mulai terprovokasi. “Ziva? Masih dengar aku?” “Iya. Masih, kok.” “Andai aku nggak dijodohin dan nggak bakalan nyusul ke sana pun, aku bakal tetap memberikan saran yang sama—memintamu menerima tawaran buat bergabung dengan Sunrise. Persetan dengan mantan yang nggak penting itu. Aku lebih memikirkan masa depan karier kamu yang potensial buat berkembang di bawah naungan Sunrise.” Bagaimana ini? Ziva mulai tergoda. Tergoda untuk tetap di sini. Haruskah Ziva benar-benar menerima tawaran untuk bergabung dengan Sunrise?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN