“Oliver … Oliver. Maafkan aku. Aku minta maaf.” Ramona menangis melihat darah menembus kemeja putih Oliver. Dia tidak benar-benar menginginkan Oliver terluka. Sama sekali tidak. Awalnya dia hanya ingin mengancam Oliver. Supaya pria itu tidak pergi di malam pertama mereka. Namun, apa yang dilakukan Oliver membuat emosinya meluap. Jari tangannya bergerak sendiri menarik pelatuk. Ramona mendekati Oliver dengan air mata berderai. Sementara Oliver masih berdiri di tempatnya dengan tangan kiri menekan pinggang. Darah membasahi tangan pria tersebut. “Oliver.” “Menyingkir,” usir Oliver yang kemudian mulai mengayun kedua kakinya. Menahan rasa sakit, Oliver berjalan melewati Ramona yang tangannya bergetar. Darah menetes ke lantai. Oliver melangkah lebar mencari kotak obat. “Aku … aku akan meman

