Setelah dinyatakan hamil oleh Dokter, aku tetap melakukan aktivitas mengajar seperti biasa. Hanya saja Mas Agung tidak mengijinkan aku masuk ke dapur untuk memasak dan membantu Bibik membersihkan rumah. Suamiku bahkan memasang kamera CCTV di beberapa sudut rumah untuk memantau kegiatanku selama di rumah. Katanya, dia tak percaya denganku. Pasti aku akan diam-diam ikut membersihkan rumah dikala gabut. “Hon, hari ini aku libur. Pergi ke rumah Eyang yuk. Kita beri kejutan sama beliau tentang kehamilanmu.” “Aku juga libur, Mas. Hari ini ‘kan hari minggu kayaknya semua orang libur deh.” “Aku berusaha melucu, Hon. Harusnya kamu apresiasi dong malah dibenarkan. Kesannya aku bodoh sampai tidak mengingat hari.” “Sini, pengen aku peluk Suami yang suka bikin kesal,” panggilku sambil melambaikan

