Bab 9: Rumah Eyang

1149 Kata
Lyra tak suka rumah Eyangnya yang meski berada di kota, tapi ada di wilayah perkampungan. Rumah itu memang cukup asri dan nyaman ditinggali, tapi keakraban yang ditawarkan lingkungan sekitar justru dianggap terlalu berlebih oleh Lyra. Ia yang terbiasa tinggal di perumahan di kota metropolitan yang lebih individualis, kadang merasa privacynya sedikit terganggu. Orang-orang itu terlalu sok akrab di matanya. Padahal memang begitulah kehidupan di sana. Apalagi, Eyang Lyra adalah tokoh masyarakat. Sepasang suami istri yang sudah senja itu, begitu dihormati di kampung mereka. Hampir setiap hari ada saja orang bertandang sekedar menyapa atau untuk berkonsultasi. Lyra sampai di rumah Eyang saat hari sudah mulai gelap. Makan malam sudah siap di meja. Lyra yang masih kesal karena merasa dipaksa ke sini, tak melirik sama sekali isi meja makan yang penuh menu favoritnya. “Mau makan dulu atau mandi dulu? Belum pada makan tadi to di kereta?” tanya Eyang. “Mandi dulu saja, Yang. Sudah lengket,” ibu Lyra yang menjawab. Lyra mengikuti ibunya ke kamar. Wajahnya masih ditekuk sejak tadi. Ia menghempaskan diri di atas kasur, kemudian memejamkan matanya. “Mandi dulu, Lyra. Jangan tidur dulu,” nasihat ibunya yang langsung membongkar tas bawaannya dan beranjak ke kamar mandi di luar. Tak ada kamar mandi dalam di rumah Eyang. Satu alasan lain yang kerap digunakan Lyra setelah beranjak remaja. Meski cukup populer dalam pergaulannya di sekolah, tapi di keluarga besar ayahnya, Lyra enggan berbasa-basi. Para orang tua selalu kepo dengan semua urusan pribadi orang lain bagi Lyra. “Lyra,” terdengar panggilan diikuti ketukan di kamar yang ditempati Lyra. Lyra memicing mencoba mengenali suara yang lama tak didengarnya. “Ya, masuk saja,” sahutnya enggan beranjak dari tempat tidur. Dian, sepupunya, berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. “Dian?” Lyra memastikan. “Iya. Kata Eyang kamu mau kuliah di sini juga,” Dian melompat ke atas kasur dan duduk bersila di sana. “Kamu di sini sekarang?” “Iya. Nanti kita kuliah bareng.” “Memang kamu kuliah di mana?” “Kedokteran gigi.” Lyra mengangguk. Beberapa waktu lalu memang ada kabar salah satu sepupunya diterima SNBP di kedokteran gigi. Lyra lupa kalau itu adalah Dian, gadis manis berkacamata yang kini ada di hadapannya. “Kuliahmu susah. Mana bisa aku bareng kamu. SNBP aja aku gak masuk eligible,” Lyra tertawa. “Kamu masih bisa ikut tes atau jalur mandiri. Om kan duitnya banyak.” Lyra mencibir. “Mana mau kuliahin aku lewat mandiri di kedokteran. Yang ada aku bakal dikenang seumur hidup dan dibandingin sama Mas Candra.” Dian tertawa. “Tapi Mas Candra keren lho.” “Harusnya kamu aja yang jadi adiknya Candra. Atau jangan-jangan kita tertukar ya waktu bayi. Kan Mama kita bareng lahirannya.” “Mana ada. Wajahmu sama Mas Candra ketiplek gitu.” “Eh ada Dian,” ibu Lyra masuk ke kamar setelah dari kamar mandi. “Iya, Tante,” Dian bangkit dan mencium tangan tantenya. “Sudah mulai ngurus-ngurus kuliah?” “Sudah, Tante. Sudah ngurus daftar ulang sama beres-beres kamar.” “Lyra mandi dulu,” Lyra mengambil baju ganti dan perlengkapan mandinya. Persoalan kuliah menjadi hal yang sensitif sekarang bagi Lyra. Karenanya, daripada mendadak bad mood, lebih baik ia menyingkir dulu. * Setelah Lyra selesai mandi, mereka duduk bersama di ruang makan. Lyra, ibunya, kedua eyangnya, dan dua orang sepupunya. Keduanya anak dari saudara perempuan ayahnya yang masing-masing tinggal di Wonosobo dan Temanggung. Ayah Lyra yang paling jauh merantau hingga ke Jakarta. Mereka empat bersaudara. Satu lagi saudara ayahnya tinggal di daerah Jogja utara. Sepupu-sepupu Lyra dari pihak ayahnya, memang sebagian besar kuliah di Jogja. Mereka akan tinggal di rumah Eyang selama masa kuliah. Selain untuk menemani kedua kakek-nenek itu, juga untuk menekan biaya hidup di Jogja yang semakin tinggi. Mereka makan dengan tenang. Sesekali terdengar bunyi denting sendok menyentuh piring. Atau obrolan ringan sambil lalu. Kedua Eyang Lyra adalah pensiunan pegawai negeri, dengan uang pensiun yang cukup untuk mereka berdua. Dan rumah mereka tak pernah sepi dari cucu-cucu atau famili yang turut tinggal selama menuntut ilmu di kota pelajar tersebut. “Lyra sudah mantep to mau kuliah di sini saja?” tanya kakeknya begitu mereka selesai makan. Lyra hanya tersenyum canggung. Wajahnya tak pandai menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya. “Sudah daftar belum to, Nduk, anakmu iki?” tanya neneknya pada ibu Lyra. “Belum, Eyang. Lyra masih bingung. Saran kakaknya sih ambil komunikasi saja,” jawab ibu Lyra. “Ya sambil dipikirkan. Nanti biar nemenin Dian dulu. Nanti diantar Aji kan juga bisa lihat-lihat kampus di sini,” ucap kakeknya bijak. “Papanya Lyra pakai kereta jam berapa jadinya?” “Jam tujuh malam, Yang.” “Tengah malam yo baru sampai.” “Nggih. Nanti katanya mau naik ojek saja dari stasiun. Ndak usah dijemput.” “Aji bisa kok jemput nanti, Yang.” “Sudah malem, Mas Aji. Biar Om kamu nanti pakai ojek gak apa-apa. Mas Aji sudah semester berapa ya?” kata ibu Lyra. “Enam, Tante.” “Mau KKN dong.” “Iya, makanya pas ini Dian sama Lyra masuk kuliah, jadi Eyang nanti ada temannya kalau Aji berangkat KKN.” “Nanti sebelum kamu KKN, Le, Dian sama Lyra diajari dulu caranya bagi waktu. Ditunjukkan tempat-tempat yang jual kebutuhan mahasiswa yang murah,” kata Eyang. “Siap, Eyang.” “Lyra nanti biar tidur sama Dian dulu saja. Kamarnya Lyra belum disiapkan. Kasurnya sudah disiapkan kok di kamar Dian.” “Terimakasih, Yang. Maaf jadi bikin repot Eyang,” kata ibu Lyra. “Enggak repot, Nduk. Kami jadi punya teman kalau anak-anak mau tinggal di sini. Gak perlu ngekos. Bisa buat yang lain uangnya. Rumah juga gak pernah sepi.” * “Kamu gak suka kuliah di sini?” tanya Dian tiba-tiba, setelah mereka masuk ke kamar dan terlentang di atas kasurnya masing-masing. Dian memiringkan tubuhnya menghadap Lyra yang lebih pendek posisinya darinya karena dia menempati dipan kecil, sementara kasur Lyra diletakkan di atas lantai. “Aku gak pingin kuliah.” “Kenapa?” “Gak pingin aja.” “Eh, Ra, aku lihat sosial mediamu lho. Followernya banyak. Udah endorse juga ya kayaknya?” Lyra mengangguk penuh semangat. “Keren ih. Udah banyak dong penghasilanmu dari endorse.” “Lumayan.” “Beneran? Keren ih. Gimana ceritanya?” Dan berkat Dian, malam itu Lyra menjadi lebih bersemangat. Dia ceritakan proses bagaimana pertama kali kontennya viral. “Lyra, di sini banyak tempat viral yang bagus-bagus dan estetik lho.” “Oh iya?” Lyra berpikir sejenak dan seketika merasa bodoh karena melupakan Jogja sebagai ikon pariwisata yang ikonik. “Nanti aku temenin kalau kamu mau bikin konten.” “Besok?” “Boleh. Habis aku dari kampus ya. Mas Aji mau tunjukkin jalan-jalan ke kampus. Atau kamu mau ikut ke kampus, kita boncengan?” “Okay.” Lyra memejamkan matanya dengan senyum tersungging di bibir. Sepertinya, Jogja gak terlalu buruk untuk dirinya tetap ngonten. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN