Aku Ini Suamimu

1225 Kata
Tiga hari yang dilalui hanya dengan melihat dinding apartemen saja. Akhirnya Gianna dapat bebas juga setelah melayani suami gilanya siang dan malam. Seperti tidak ada bosan-bosannya. Masa sehari bisa lebih dari tiga kali. Apa namanya kalau bukan gila? Tubuhnya sampai terasa pegal-pegal dan sekarang, mau berangkat ke kantor pun malah disuruh pergi sendiri begini. Ya memang, kalau pergi bersama pasti akan ada selentingan kabar yang bukan-bukan. Nanti terbuka juga bila ia ini adalah seorang istri kedua. Apa tidak akan diamuk oleh istri sahnya nanti? Keperawanan sudah lenyap. Uang baru dapat 50 juta dan hutang belum juga lunas. Masa sudah harus berakhir saja. Setidaknya, lakukan lah sampai hutang-hutangnya lunas dan ia memiliki cukup banyak tabungan agar bisa sedikit tenang saat sudah benar-benar lepas dari laki-laki itu. Gianna berdiri di depan sebuah lift dan menunggu lift tersebut terbuka lebar. Gianna melangkah masuk, ketika liftnya sudah terbuka. Dia tekan angka sembilan demi mengikuti instruksi yang sebelumnya telah Delvin berikan padanya. Lift berdenting dan pintunya kembali terbuka. Gianna melangkah keluar dan hanya beberapa langkah saja berjalan, dia sudah bisa melihat suaminya yang sedang berdiri di ujung ruangan sana. Derap langkah Gianna yang tergesa-gesa, semakin cepat langkahnya dan semakin dekat ia dengan pria yang ada di sana itu. Hembusan nafas perlahan Gianna lakukan ketika ia sudah berada di sisi pria yang telah menjadikannya seorang istri kedua. "Selamat pagi, Mas," sapa Gianna dan asistennya Delvin pun nampak menganga. Belum lagi dengan para staf lainnya juga, yang langsung terdiam mendengar ucapan Gianna pada Delvin barusan. Delvin mengerutkan keningnya dan memberikan isyarat gelengan kepala yang pelan serta lirikan mata juga. Tadinya Gianna masih belum sadar, tapi setelah mengingat dimana kakinya ini sedang berpijak dan apa yang tadi terlontar dari mulutnya sendiri, Gianna pun cepat-cepat mengerjap dan meralatnya. "Eu, itu... Pak Delvin maksudnya. Maaf, saya salah bicara, Pak," ucap Gianna yang langsung menepuk bibirnya sendiri sebanyak dua kali. Pantas semuanya mendadak diam tadi. Rupanya karena kata yang keluar dari mulut lancangnya ini. Sudah terbiasa selama tiga hari ini memanggil begitu, ia jadi lupa bila di kantor mereka hanya sebatas atasan dan bawahan saja. "Cepat pergi ke kursimu dan kerjakan pekerjaan kamu dengan baik, bila kamu masih ingin bekerja lebih lama di sini!" hardik Delvin sambil berjalan pergi ke ruangannya dan diikuti oleh sang asisten. Sepeninggalan Delvin, Gianna berdengus dan berjalan ke arah entah dimana. Ia belum diberitahu harus duduk dimana dan saat melihat ada kursi yang kosong malah dia main duduk saja di sana. "Eh, awas minggir! Ini tempat gue!" "Oh, maaf maaf." Gianna bangun dari kursi tersebut dan kelihatan kikuk sendiri. "Sekretaris baru kan? Tuh di sana duduknya!" ucap wanita yang tadi kursinya tidak sengaja Gianna duduki. "Oh iya, terima kasih." Gianna melangkah dengan terburu-buru dan menarik kursi lantas duduk di kursi yang merupakan tempat duduknya sekarang. Hari pertama kerja plus hari sialnya juga ia rasa. Masih pagi dan baru mau memulai pekerjaan, ada saja kesalahan yang ia lakukan. Menjelang waktu makan siang. Gianna pergi ke ruangan dimana Delvin bekerja. Niatnya hanya untuk memberikan hasil laporan yang telah ia kerjakan saja dan bertanya tentang hasil pekerjaannya itu. "Ini, Pak. Apa ini sudah benar?" tanya Gianna yang kini sedang berdiri di hadapan Delvin. "Coba bawa ke sini," perintah Delvin. Gianna menarik berkas dari atas meja lalu datang ke sisi Delvin. "Coba buka. Mana hasil pekerjaan kamu," perintah Delvin lagi dan Gianna pun membuka lembaran berkas tersebut, lalu membungkuk di sisi Delvin dan menunjukkannya. "Yang ini, Pak. Terus ini juga," ucap Gianna sambil menunjuk setiap point yang ia kerjakan. Delvin tiba-tiba saja menaruh tangannya di b****g Gianna, hingga Gianna reflek menoleh. Untungnya, mereka sedang berada di dalam ruangan dan tidak ada juga yang melihat keintiman mereka berdua saat ini. "Yang ini sudah benar dan ini juga sudah lumayan," ucap Delvin dan membuat Gianna mengguratkan senyuman di bibirnya. Tidak salah tadi ia sudah sampai uring-uringan ke sana kemari untuk bisa mengerjakan semuanya ini. "Ya sudah bagus. Berarti memang kamu sudah cukup paham dengan pekerjaan kamu yang ada di sini," ucap Delvin dan Gianna pun langsung berdiri dengan tegak lagi, karena tangan atasannya ini tidak hanya menyentuh tapi terasa seperti rabaan. "Oh iya, nanti sore saya pulang ke rumah," imbuh Delvin. "Oh iya. Ya udah," jawab Gianna singkat. Tapi di dalam hati dia sudah sampai jingkrak-jingkrak kegirangan. Akhirnya bisa tidur dengan nyenyak malam ini, tanpa ada yang mengganggu dan juga meminta untuk dilayani. "Nanti saya transfer lagi uang untuk biaya sehari-hari kamu di sana. Terus juga untuk biaya transportasi." "Terus tunjangan tiap bulannya dikirim kapan?" tanya Gianna yang tak ingin banyak basa-basi. Ia ada di sini karena uang, ya tentu saja yang ia tanyakan pasti mengenai uang. "Akhir bulan. Sekalian dengan gaji kamu juga nanti. Kenapa? Apa yang kemarin-kemarin masih belum cukup?" "Bukan nggak bersyukur. Tapi Mas juga tahu kan, kalau hutang aku lebih dari itu," ujar Gianna. "Ya nantilah. Sabar. Kita masih belum apa-apa. Baru pemanasan," ucap Delvin dengan seenaknya sekali. Apa tadi katanya? Pemanasan? Ia sudah sampai dibuat jungkir balik siang malam dan itu baru pemanasan?? "Eum, pekerjaan kamu sudah selesai kan?" ucap Delvin seraya merengkuh tubuh Gianna dan menarik ke arahnya. "Sudah. Kenapa emangnya, Pak?" tanya Gianna yang sudah tidak enak saja firasatnya. "Ayo main sebentar," ajak Delvin dan hembusan nafas itu otomatis keluar dari kerongkongan Gianna yang terasa kering. "Kita masih di kantor, Mas. Apa mentang-mentang sebentar lagi waktunya makan siang, terus kita mau pulang dulu sebentar ke apartemen?" tanya Gianna. "Siapa yang bilang kalau kita akan ke apart?" tanya Delvin dan raut wajah Gianna terlihat sekali herannya dari kedua alisnya yang seperti hendak menyatu di tengah. "Ya terus?" "Ruangan ini kosong kan. Cuma ada kita berdua di sini." Tatapan mata itu dan cara dia menggantungkan kata-katanya, membuat Gianna berspekulasi yang agak liar. "Maksudnya mau di sini?" Gianna menarik kedua ujung bibirnya hingga tercipta sebuah senyuman yang kaku. "Menurut kamu?" Senyuman Delvin seolah memberikan jawaban dan sontak Gianna mundur menjauh. Tapi malah dikejar. Sepasang tangan menyusup ke celah-celah tubuh Gianna. Mengikatnya dengan sepasang tangan nan kekar itu. "Ayolah. Aku ini suamimu 'kan?" Kata-katanya terdengar menggelitik sekali dan Gianna merasa ingin tertawa hingga terbahak. Bila sedang ingin, dia mendadak romantis dan hangat. Namun jika sudah selesai keinginannya tersampaikan, dia akan kembali memperlakukannya seperti orang lain. Sungguh terasa tidak adil. Tapi inilah resiko yang sudah ia ambil sejak awal. Gianna selalu berusaha menanamkan dalam pikirannya, bila semua ini hanya demi uang, ketika rasa ketidakadilan itu terlalu berisik di dalam kepalanya. "Ya tapi... Gimana kalau ada yang datang ke sini dan lihat kita? Katanya mau sembunyi-sembunyi 'kan?" "Sebentar lagi, mereka akan pergi makan siang dan sebaiknya, kamu kunci pintunya dari sekarang kalau kamu tidak ingin ada yang melihat keintiman kita ini." Gianna meneguk salivanya sendiri. Sekarang bukan lagi laki-laki ini yang takut ketahuan, tetapi malah ia yang panik dan segera berlarian ke pintu lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Gianna terdiam dan masih menempel di pintu ruangan. Tetapi sesuatu dalam dadanya itu sudah melompat-lompat tak tahu aturan. Kalau pergi lagi ke sana, sama saja ia masuk sendiri ke dalam mulut buaya. Akan tetapi, sepertinya buaya itulah yang malah datang sendiri dan mendesak tubuh Gianna hingga benar-benar menempel pada pintu. "Ayo cepatlah. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi," bisik Delvin yang kini sedang menjelajahi tengkuk leher Gianna dengan menggunakan bibirnya. Menyesap bak lebah yang sedang menikmati sari bunga. Belum lagi tangannya yang terus meraba ke sepasang gunung ranum, yang bila ditangkup pas sekali dengan telapak tangannya yang lebar ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN