Dicurigai

1215 Kata
Gianna tidak memiliki pilihan. Sekali apa yang dikatakan oleh pria yang di belakang tubuhnya ini, sudah pasti harus ia ikuti. Biarpun agak aneh dan nyeleneh. "Ya udah. Terserah, Mas." Satu kalimat persetujuan dan tubuh Gianna sontak direngkuh juga diangkat ala bridal style. Dia dibawa ke sofa ruangan dan kembali dicumbui tanpa banyak perlawanan lagi. Kelopak matanya menutup rapat dan mulutnya pun terbuka ketika helaian kain penutup di bagian atas disingkap. Bohong sekali bila Gianna tidak merindukan kenikmatan ini. Tapi batinnya pun terus bergulat, agar ia bisa untuk tidak ketagihan. Apa lagi sampai ingin memiliki dalam jangka waktu yang panjang. Sadar diri, biarpun statusnya juga istri. Tapi ia ini hanya istri yang digunakan sebagai tempat pelampiasan nafsu saja. Tidak lebih. Tubuh sixpack yang tentunya dilatih dengan kerja keras kini sedang memanjakan mata Gianna yang terbuka sedikit. Gerakan demi gerakan yang menghantarkan sensasi yang sulit dicerna nalar. Gianna bekap mulutnya sendiri, agar suara lenguhannya tidak membuat orang-orang yang masih berada di luar sana curiga. Tetapi, Delvin seperti dengan sengaja ingin membuat suara itu lepas dengan gerakan cepat nan kasarnya itu. Gianna menggila dengan tubuh yang sudah bercucuran peluh bersama, di tengah ruangan yang sebetulnya ber-AC ini. Tapi rasa dinginnya tidaklah bisa menembus pori-pori kulit dua insan yang saling bergerak dengan sangat agresif. Gianna cengkram apapun itu yang ada di dekatnya termasuk sandaran sofa yang tengah ia remas dengan begitu kencangnya. Belum lagi tangan kanannya yang masih ia gunakan untuk menahan suara untuk tetap berada di dalam mulutnya saja. Suara alarm tanda waktu istirahat tiba telah berbunyi. Tetapi tidak serta merta membuat Delvin berhenti. Dia masih sibuk menjadi joki kuda sampai yang ia kendalikan sudah mulai lemas, tetapi tidak mudah untuk ditumbangkan. Inilah yang membuat Delvin menggilai Gianna, selain bentuk tubuh yang cukup menggoda. Dia tahan lama. Dia tahan banting dan ia bisa mencoba berbagai macam pose yang ia inginkan lakukan. Beberapa menit berikutnya, giliran suara ponsel yang ada di saku celana panjang hitam yang tergeletak di lantai itu yang berbunyi nyaring. Delvin teringat, sudah waktunya ia menelepon pujaan hatinya dan untuk kali ini, ia terpaksa menyelesaikan permainannya dengan cepat. Karena ada seorang wanita yang harus dan selalu ingin ia prioritaskan. Delvin mengencangkan cengkraman dan dengan beberapa kali hentakan keras, lahar panas itu menyembur dan meninggalkan rasa nikmat yang tiada tara. Delvin segera memunguti lembaran-lembaran kain miliknya yang ada di lantai dan pergi ke toilet dengan terburu-buru. Sedangkan Gianna menarik kemeja putih miliknya yang kini ia gunakan untuk melapisi kulit yang mulai merasa kedinginan. Istirahat dulu sebentar dan tarik nafas karena ia merasa seperti tidak bernafas tadi. Tidak butuh waktu sampai sepuluh menit. Delvin pun keluar dari dalam kamar mandi dengan celana panjang yang telah terpasang dan kemeja putihnya yang belum sempat dikancingkan sama sekali. Ponsel berada di tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk menautkan satu persatu kancing yang ada di depan tubuhnya. "Jangan berisik dan jangan bersuara." Selalu kata-kata itu yang Gianna dengar ketika Delvin menggenggam ponselnya dengan raut wajah yang langsung berubah semringah. Gianna tahu pasti dengan siapa Delvin bicara saat ini. Ya, istrinya. Istri sahnya yang tak pernah ia ketahui wajahnya tapi ia tahu, bila pria yang ada di sana itu begitu mencintainya. "Halo, Sayang. Sudah makan siang? Sudah minum obat?" Sapaan akrab nan hangat yang Gianna balas dengan senyuman masam. Gianna bangun dari sofa dan mengambil sisa-sisa pakaiannya. Lantas ia bergantian pergi ke toilet dan membersihkan sisa-sisa peluh yang saling bercampur di tubuhnya ini. "Mas? Kenapa lama angkat teleponnya? Biasanya, kamu malah selalu telepon aku duluan tepat waktu," tanya Gretha. "Iya, Sayang. Maaf ya? Aku sedang sibuk sekali hari ini. Ya kamu tahulah, aku tinggalkan pekerjaanku di sini selama beberapa hari dan sekarang, aku baru sempat pegang lagi." "Hari ini Mas pulang kan? Aku kangen, Mas." "Iya, Sayang. Aku pulang hari ini kok. Nanti sore setelah semua pekerjaan di kantor beres, aku akan segera pulang ke rumah. Kamu sabar ya, Sayang," ujar Delvin dengan sangat lembut. "Ya udah. Pokoknya aku tunggu di rumah ya, Mas?" ucap Gretha menekankan. "Iya, Sayang. Siap. Nanti sore aku langsung pulang ke rumah." Panggilan telepon diakhiri dan Delvin membereskan sisa pakaiannya yang masih berantakan ini. Lalu tidak lama kemudian, Gianna pun keluar dari dalam toilet dan sudah nampak kelihatan rapi lagi. "Gianna! Kamu mau kemana?" tanya Delvin ketika Gianna baru saja melewatinya dan hendak menuju ke pintu keluar. "Makan. Lemes. Laper," jawab Gianna sambil mengusap-usap perutnya sendiri. "Ya sudah. Pergilah," perintah Delvin dan Gianna pun berdecak lalu kembali melanjutkan lagi langkah kakinya. Ia kira mau diberi uang untuk membeli makanan siang atau apa. Cuma ditanya dan malah disuruh pergi. Dasar suami sembunyi-sembunyi. Gianna keluar dari gedung perusahaan dan dia datang ke sebuah tempat makan yang dekat dari kantornya itu. Lantas memesan makanan dan duduk diantara orang-orang yang merupakan rekan kerjanya di dalam, tapi ia belum terlalu mengenali mereka. Hanya mereka kenal dan sok akrab dengannya. "Gianna!" panggil seorang lelaki yang langsung dilirik sinis oleh barisan perempuan yang duduk di sana. Gianna yang sedang membawa makanan itupun menoleh dan mendekat saat tangan lelaki di sana itu melambai ke arahnya. "Ayo sini duduk. Gabung sama kita," ucap pria itu sambil menarik kursi kosong dan memberi Gianna celah untuk duduk diantara mereka semua. "Kok telat keluarnya? Abis dimarahin si Bos, ya?" tanya lelaki yang memberi Gianna tempat ini. "Ha?" Gianna seperti orang yang linglung dan laki-laki itu nampak tersenyum. "Oh iya, kenalin, aku Bimo. Kita masih satu divisi tapi kayaknya kamu nggak sadar ada aku di sana tadi." "Oh iya, Gianna," balas Gianna sambil bersalaman dengan Bimo. "Gimana hari pertama kerja? Langsung kena marah ya? Sekretaris yang dulu juga begitu. Katanya nggak tahan kena marah terus. Jadinya resign." "Kena marah, apa kena yang lain?" sindir Sofie yang masih satu divisi juga dengan Gianna serta Bimo dan duduk di depan mereka, sambil memperhatikan Gianna. Rambut lepek dan juga raut wajah seperti kelelahan. Daripada dimarahi, dia malah kelihatan seperti habis 'dikerjai'. "Eum, aku makan dulu boleh ya? Lapar abisnya. Terus juga waktu istirahat tinggal sebentar lagi," ujar Gianna. "Oh iya iya, silahkan. Makan dulu aja," ucap Bimo. Gianna makan dengan lahap. Sementara Sofie malah memandang sinis kepada Gianna. Gianna sadar, tapi pura-pura tidak melihat saja. Sore harinya. Delvin melangkah naik ke lantai atas dengan penuh percaya diri. Sebentar lagi, ia akan bertemu dengan sang pujaan hati. Tanpa rasa bersalah. Tanpa merasa sudah melakukan kesalahan besar di pernikahan mereka. "Hai, Sayang. Bagaimana kabar kamu hm?" sapa Delvin seraya masuk ke dalam kamar sang istri lalu mengecup pipi dan memberikannya buket bunga mawar yang cukup besar. "Sudah agak membaik, Mas. Ahh... akhirnya kamu pulang juga. Gimana pekerjaannya? Lancar? By the way, terima kasih bunganya. Mas selalu ingat semua hal yang jadi favorit aku," ucap Gretha sambil membelai buket bunga yang Delvin berikan padanya. "Sama-sama, Sayang. Pekerjaan aku lancar. Tadinya aku kira bisa sampai satu minggu di sana. Tapi, tiga hari saja sudah cukup. Jadi sekarang, aku sudah pulang dan bisa menemani kamu lagi di rumah." "Syukurlah, Mas. Aku lega dengernya. Akhirnya, aku nggak ditinggal-tinggal sendirian lagi di rumah." "Pastinya lah," ucap Delvin yang membelai-belai rambut sang istri, tetapi sedikit terganggu dengan suara yang muncul dari saku celananya. Delvin keluarkan ponselnya dari dalam saku dan Gretha pun ikut melihat layar ponsel sang suami. "Gianna," ucap Gretha dan Delvin pun segera menjauhkan ponselnya dari pandangan sang istri. "Gianna siapa, Mas?" tanya Gretha dengan raut wajah yang memunculkan kecurigaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN