"Ha? A-aku..."
"Jangan main api dengan laki-laki lain di belakangku! Jangan pernah kamu lakukan itu! Justru aku memilih kamu, agar hanya aku yang bisa mencicipi tubuhmu ini! Tapi kenapa kamu malah bermain api!" pekik Delvin sambil meremas lengan Gianna dengan kencang.
"Mas! Aku nggak lakuin itu! Sumpah! Aku nggak ada main belakang sama lelaki manapun!" seru Gianna sambil meringis.
"Jangan bohong! Lalu kenapa bisa ada aroma parfum laki-laki lain di tubuh kamu ini huh!? Aku sudah katakan, aku paling tidak suka dibohongi!"
"Mas, tadi itu aku diserempet orang. Terus dia angkat aku dan bawa aku ke mobilnya! Kalau nggak percaya, lihat aja tangan aku ini!" seru Gianna.
Devlin menghempaskan bahu Gianna dan segera mengecek ke tangan Gianna satu persatu dan baru menemukan hal yang dia katakan. Sebuah goresan luka di tangan, seperti bekas terkena aspal atau semacamnya.
"Jadi benar begitu?" tanya Delvin yang nada suaranya sudah mulai menurun.
"Iya, Mas. Aku sama sekali nggak bohong. Tadi aku cuma niat cari makan di luar. Tapi pas mau nyebrang malah nggak sengaja diserempet orang. Untungnya nggak apa-apa. Cuma lecet sedikit," ucap Gianna yang sudah memelas bicara tapi malah seperti tidak dihiraukan oleh lelaki yang sedang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kalau begitu baiklah. Aku harus kembali pulang, sebelum istriku bangun." Delvin bangun dari sofa dan menghilang tubuhnya dari pandangan Gianna tanpa berkata apa-apa lagi. Sedangkan yang dia tinggalkan mengguratkan senyuman di bibir. Bukan senyum kebahagiaan tetapi senyuman yang getir. Ketika diawal tadi, ia malah seperti merasakan atmosfer kecemburuan. Tetapi detik berikutnya, hal itu malah lenyap tanpa bekas. Ia malah terlihat seperti pungguk yang merindukan bulan. Bukankah terlalu besar kepala, dengan hitungan seorang istri rasa simpanan ini?
Gianna menghela nafas dan melucuti setiap helaian kain yang menutupi permukaan kulit tubuhnya ini. Lantas, Gianna yang tubuhnya sudah tidak terbalut sehelai benang pun itu, kini masuk ke air dalam bathtub. Merendam tubuhnya dan menjernihkan pikirannya di sana. Karena sekilas tadi, ia seperti merasa ada percikan nyeri yang tidak sepatutnya ia rasakan juga. Ia tahu itu bukan cinta. Mustahil ia mencintai seseorang yang tidak mencintainya juga. Hanya saja, sikapnya tadi malah membuat Gianna sedikit kehilangan akal sehat. Padahal jelas-jelas laki-laki itu bukanlah miliknya. Siapa lah ia ini. Kalau tidak meminta untuk dinikahi dulu, mungkin derajatnya sama seperti simpanan. Atau bahkan seperti wanita murahann yang menjajakan diri di jalanan.
Tubuh Gianna kian merosot sampai wajahnya tenggelam setengahnya di dalam bathtub. Ada gejolak rasa sesal yang tiba-tiba saja membuncah. Seandainya saja ia mencari pekerjaan yang lain, mungkin ia tidak akan terpenjara bersama dengan seorang pria beristri. Tapi sayangnya, ia terlalu naif untuk mengakui bila cara instan memang yang paling mudah dilalui untuk mendapatkan uang secara cepat. Tapi apa mau dikata. Sudah terlanjur juga bukan? Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjalani semuanya ini, sampai batas waktu yang entah kapan itu, hanya laki-laki itu yang tahu.
Beberapa minggu berikutnya. Kondisi kesehatan Gretha sudah semakin membaik. Delvin pun sangat senang akan hal itu. Dia jadi jarang pergi ke tempat Gianna juga dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan istri tercintanya. Bermanja-manjaan seperti apa yang tengah ia lakukan sekarang. Menaruh kepalanya di atas pangkuan Gretha dan sambil diusap-usap kepalanya oleh wanita yang ia kasihi ini, di taman yang letaknya di halaman belakang rumahnya yang besar ini.
"Sayang?" panggil Delvin sambil mengambil tangan Gretha yang berada di atas kepala Delvin sendiri, lalu mulai menciuminya dengan mata yang terpejam.
"Hm? Kenapa, Mas?" Gretha menatap wajah Delvin dan Delvin pun pelan-pelan membuka kelopak matanya, lantas menyentuh pipi Gretha lalu mengangkat kepalanya sedikit dan mengecup bibir Gretha di suasana sore menjelang malam ini.
"Mas, malu. Jangan di sini," ucap Gretha dengan begitu lemah lembut.
"Jangan di sini? Apa mau di kamar saja hm?" tanya Delvin sembari bangun dari pangkuan Gretha dan menaikturunkan alisnya.
"Mas, aku..."
"Ayo kita ke kamar," ajak Delvin yang kemudian turun dari atas kursi kayu panjang ini dan mulai mengangkat tubuh Gretha lantas membawa dia bersamanya.
Gretha nampak sedikit canggung sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Delvin. Biarpun sudah suami istri, rasa malu-malunya masih ada. Apa lagi, hampir di sepanjang waktu suaminya ini selalu menunjukkan sikap manis nan romantisnya.
Setibanya mereka di dalam kamar. Delvin menutup pintunya kembali dan mengunci pintu tersebut, lalu dia kemudian membawa tubuh Gretha sampai di atas ranjang sana dan melewatkannya di atas ranjang tersebut. Begitu pelan dan juga hati-hati, bak tengah memperlakukan sebuah vas bunga yang mahal. Baginya, Gretha berharga dan baginya juga, Gretha adalah dunianya.
Delvin mulai mencumbui wanita terbaik yang baru pertama kali ia temui seumur hidupnya. Wanita yang lembut, yang memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Karena sedari Delvin kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sama sekali. Ibunya telah lama pergi meninggalkan dunia ini. Hanya ada seorang ibu tiri, yang sibuk dengan ayah maupun adik tirinya dan semua limpahan kasih sayang serta kelemah lembutan, Delvin dapatkan dari Gretha cinta pertamanya yang memiliki sifat keibuan. Tidak peduli bila Gretha seringkali sakit-sakitan, bahkan kondisinya yang semakin memburuk ketika mereka menikah. Delvin tetap mencintai Gretha dan ingin menghabiskan hari tuanya bersama Gretha seorang.
"Mas?" Gretha menyentuh tangan Delvin yang sedang melepaskan tautan kancing pakaian, yang melekat di tubuh Gretha ini.
Delvin teralihkan perhatiannya sekilas dan menatap wajah Gretha yang kelihatan pucat.
"Kenapa? Apa terasa lagi sakitnya?" tanya Delvin dengan sabar dan sambil membelai rambut sang istri.
"Aku haus. Boleh tolong ambilkan minum?" pinta Gretha.
"Boleh. Tunggu sebentar." Delvin turun dari atas tempat tidur dan mengambil segelas air pada dispenser yang ada di dalam kamar ini. Lalu, ia kembali lagi kepada Gretha yang sedang duduk sambil batuk-batuk.
"Ini, minum dulu," perintah Delvin.
Gretha meneguk segelas air hangat yang Delvin berikan. Pelan-pelan dan sedikit demi sedikit. Hingga habis tapi tidak sampai setengahnya.
"Udah, Mas."
Delvin ambil gelas dari genggaman tangan Gretha dan menaruhnya di atas nakas. Ia lalu duduk di samping istrinya itu dan memandangi raut wajahnya. Seulas senyuman tipis muncul di bibir Delvin. Padahal, ia ingin memadu kasih bersama istrinya ini. Tetapi sepertinya belum bisa untuk sekarang. Kondisi tubuhnya baru berangsur membaik dan belumlah pulih sepenuhnya. Jadi, ia tidak bisa asal-asalan dalam mengambil haknya. Sudahlah. Mungkin di lain kesempatan. Toh bila tidak bisa tersalurkan hari ini, masih ada tempat penyaluran lainnya yang sudah menganggur beberapa hari.
"Kamu istirahat ya?" ucap Delvin sambil mengusap kepala Gretha.
"Kok istirahat, Mas?" tanya Gretha yang sebenarnya sangat menantikan momen seperti tadi. Bukan karena gatal. Tapi kasihan suaminya ini, yang sudah beberapa bulan terakhir tidak ia layani.
"Iya. Istirahat dulu. Tunggu sampai benar-benar pulih dulu. Nanti takutnya, kamu malah pingsan seperti waktu itu. Nanti aku malah panik. Jadi lebih baik kamu istirahat sampai benar-benar pulih."
Raut wajah yang mendadak murung itu menyapu di sepasang indra penglihatan milik Delvin. Gretha benar-benar merasa jadi istri yang tidak berguna. Tapi Delvin berusaha untuk menenangkannya.
"Sudah. Ayo istirahat. Kalau sudah pulih, baru kita coba lagi. Aku bukannya nggak mau juga. Tapi, aku cuma khawatir dengan kamu. Kesehatan dan juga keselamatan kamu lebih penting dari apapun yang ada di dunia ini. Sana, tidur. Biar aku selimuti kamu," ujar Delvin dengan sangat lembut.
Gretha mengangguk patuh. Dia naik ke atas tempat tidur dan meringkuk di atasnya. Sementara Delvin menyelimuti tubuh Gretha dan menunggunya sampai benar-benar tidur.
Ketika Delvin pikir bila sang istri sudah tidur, saat itu juga Delvin pergi meninggalkannya. Tanpa Delvin sadari, bila ketika pintu kamarnya dia tutup sepasang mata Gretha pun terbuka.
Sementara itu di tempat lainnya. Gianna sedang berpesta pora. Hampir satu pekan tidak didatangi, ia rasanya senang sekali. Belum mandi dan memakai apapun itu yang ia inginkan. Pokoknya, isi apartemen ini sudah seperti kapal pecah. Tapi Gianna yakin, tidak akan ada yang bawel melihat semua kekacauan ini.
Gianna rebahkan tubuhnya di atas sofa sambil mengambil satu tangkai buah anggur hijau yang ia lahap satu persatu. Sedangkan tangan kirinya sedang sibuk mengecek saldo yang masuk. Tidak terasa sudah satu bulan saja. Uang gajinya pun ternyata lumayan juga. Belum lagi ditambah uang makan dan transportasi. Kalau dipakai untuk membayar sisa hutang ya bisalah. Tapi ia juga harus mengirimi orang tuanya juga. Jadi hutang mungkin akan ia lunasi di bulan depan.
Tit!
Gianna menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba saja terbuka. Dia lihat orang yang ia pikir tidak akan datang, tetapi malah ke sini dan melihat seluruh kekacauan di apartemennya.
"Mas, kamu kok di sini? Eum, sebentar aku bereskan semuanya dulu," ucap Gianna yang terburu-buru menyentuh benda-benda yang ada di atas meja. Namun gerak tangannya terhenti, saat ia merasakan tubuhnya di dekap dari arah belakang.
"Ayo, layani aku dulu," pinta Delvin sambil menciumi mengusapkan pipinya di punggung Gianna.
"Tapi, Mas. Aku belum mandi. Aku juga belum minum o..."
Delvin membungkam mulut Gianna menggunakan mulutnya. Lantas ia dorong tubuh Gianna ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuh Gianna bersama dengan tubuhnya sendiri.
"Mas!" seru Gianna yang lagi-lagi dibungkam suaranya oleh Delvin.
Delvin tidak mau mendengar suara wanita ini. Ia ingin dan sedang membayangkan, bila wanita yang sedang ia jamah ini adalah istri sahnya sendiri dan bukanlah Gianna. Dengan mata terpejam dan bibir yang terus menerus menyesap. Delvin melakukan penyatuan. Sedangkan Gianna sudah panik luar biasa, karena hari ini ia belum meminum pil pencegah kehamilannya. Mau mengelak sulit mau bicara pun tidak bisa. Hingga ketika pelepasan selesai dilakukan. Gianna hanya bisa diam di atas ranjang sambil memejamkan matanya.