Aroma Laki-laki Lain

1048 Kata
"Ayo makan lagi. Makanlah yang banyak," ucap Sakha yang ujung-ujungnya malah membawa Gianna pergi ke sebuah restoran. Tadi dia benar-benar hampir membawa Gianna ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya. Karena dia mengira, supirnya menyerempet Gianna dan dia butuh perawatan. Tapi setelah Gianna meyakinkan bila dirinya baik-baik saja. Sakha beralih tujuan dengan mengajak Gianna makan saja sebagai cara untuk menebus kelalaian dari sang supir. Gianna yang memang berniat mencari makanan. Ya tentu saja tidak menolak kesempatan langka yang datang ke mukanya ini. Uang yang Delvin berikan pun bisa ia tabung dan ia tetap bisa kenyang setelah mendapatkan semua makanan ini secara cuma-cuma. "Makanannya enak-enak ya di sini? Tapi pasti enak sih ya, soalnya mahal kan," celoteh Gianna sambil memamerkan susunan giginya yang rapi. "Ya makanya, kamu boleh makan sepuasnya di sini. Nggak usah malu-malu. Kapan lagi iya 'kan?" Sakha yang hanya memegangi sendok ikut melahap makanan miliknya juga dengan sekali suapan yang besar. Berbeda dengan Gianna yang pelan dan terlihat sangat menikmati makanannya sendiri. Tapi sambil membatin juga, bila mungkin sesekali ia harus mengajak suami sementaranya itu untuk mentraktirnya makan di tempat ini. Ah iya lupa. Mereka sedang main petak umpet. Pernikahan mereka tidak boleh diketahui oleh siapa-siapa. Jadi bagaimana bisa bebas makan berduaan saja di tempat yang ramai begini? Parahnya lagi, apa tidak akan dicekik sampai mati oleh istri sahnya itu? Makanan yang tadinya terasa nikmat malah harus diselingi pikiran yang tidak enak. Kalau dipikir-pikir ia jadi terlihat jahat sekali. Tapi, semua ini bukanlah kemauannya juga. Dia duluan yang menawarkan diri. Menawarkan uang lebih tepatnya. Kalau tidak pusing gara-gara habis dipecat dan berpikir bisa membayar hutang-hutang dalam waktu singkat, ia juga tidak mau menikah dengan suami orang. Karena yang single pun banyak dan ia tidak masuk ke dalam kategori jelek juga. Wajah cantik dan tubuh yang proporsional. Siapa yang tidak akan tertarik? Suami brengseknya itu saja sampai tidak membiarkannya melihat cahaya matahari selama tiga hari. "Kenapa? Kenapa malah diam?" tanya Sakha saat melihat Gianna yang larut dalam lamunan sesaatnya ini. Gianna tersenyum getir dan bergidik. "Nggak apa-apa kok," jawab Gianna yang kini mendengar suara dari dalam tas yang ia bawa-bawa dan berasal dari suara telepon selulernya sendiri. Gianna buka dan periksa panggilan masuk itu. Tetapi tidak buru-buru dia angkat dan malah di-reject serta telepon genggamnya ia nonaktifkan. Sementara yang meneleponnya tadi, kini tengah menatap layar ponselnya sendiri sambil mengumpat tak tanggung-tanggung. "Sialan! Kenapa malah di-reject!? Dia sedang apa sebenarnya!?" Delvin mencoba melakukan panggilan telepon lagi tetapi nomor wanita yang dihubungi malah tidak aktif. Apa jangan-jangan, dia sedang memainkan drama seperti seorang istri sungguhan? Merajuk karena ia yang tidak langsung datang memenuhi panggilannya ke sini, ketika sore tadi? Delvin tidak berhenti menghubungi. Biar sebenarnya hal itu sia-sia saja. Sedangkan Gianna malah kembali memakan makanannya lagi tapi tidak seantusias yang tadi. "Kenapa? Apa kamu sedang dicari-cari?" tanya Sakha yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Gianna, yang sibuk sekali dengan ponselnya yang berdering itu. "Nggak penting kok. Yang menelpon, nggak kalah pentingnya sama makanan ini," ucap Gianna yang kembali sibuk menikmati makanannya ini. Tetapi, ia mendadak diam saat memikirkan tentang tambang uangnya yang bisa saja hilang. Kalau diabaikan, apa tidak akan murka? Baru dapat lima puluh juta. Masa iya harus selesai sekarang juga? "Ini dibayarin kan ya?" tanya Gianna. "Iya. Saya yang bayar semua. Kenapa? Mau tambah? Atau mau..." Sakha terdiam saat melihat Gianna yang tiba-tiba saja bangun dari kursi yang berada di hadapannya ini. "Kamu mau kemana?" tanya Sakha. "Terima kasih traktiran makan ya, Mas? Aku pamit duluan," ucap Gianna yang segera mendorong kursi dan berlari pergi meninggalkan Sakha. "Hei, tunggu dulu!" seru Sakha yang tadinya ingin mengantarkan Gianna tapi sepertinya, dia sangatlah terburu-buru. Sakha hanya bisa menghela nafas saja, ketika Gianna begitu cepat meninggalkannya. Sementara Gianna berlari sekencang mungkin untuk segera pulang ke apartemen. Setelah berada di dalam sebuah taxi, Gianna pun dengan segera menghubungi nomor yang sempat menghubunginya dan untungnya juga masih dijawab. "Mas? Kenapa? Tadi aku..." "Aku ada di apart." Satu kalimat singkat yang sudah cukup menjelaskan, kenapa pria ini menghubunginya. "Iya. Ini..." Gianna melihat layar ponselnya dan sudah tidak terlihat lagi panggilan telepon dari Delvin di sana. "Ah, malah dimatiin lagi. Pak, tolong yang cepat sedikit ya?" pinta Gianna pada supir taxi yang ia tumpangi mobilnya ini. Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu belasan menit. Akhirnya Gianna pun tiba di apartemen. Dia lantas naik ke lantai atas menggunakan lift dan sedikit berlari ketika pintu liftnya sudah terbuka persis di lantai apartemen yang ia tinggali beberapa hari ini. Gianna cepat-cepat masuk ke dalam dan saat sampai di sana ada sepasang mata yang langsung meruncingkan tatapannya. Gianna teguk salivanya sendiri dan cepat-cepat menutup pintu apartemen dan menghampiri lelaki yang sedang menatapnya ini. "Mas? Kamu kapan datangnya?" tanya Gianna berbasa-basi. Tetapi yang ditanya malah diam sambil terus menerus memperhatikan gerak-gerik Gianna. Tidak berkedip dan ekspresi wajahnya itu juga seperti sedang memendam amarah. Gianna bukannya tidak sadar. Justru karena sadar, ia mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja. Untuk tetap beramah tamah, agar amarahnya tidak meledak-ledak. Gianna mendekat dan menaruh tas yang melingkar di tubuhnya itu di atas meja, di dekat sofa dan merapikan rambutnya dulu lalu duduk di sisi laki-laki, yang masih juga tidak mengeluarkan satu patah katapun itu dari mulutnya. "Mas pegal nggak? Mau aku pijat? Aku bisa pijat lho. Kata Mama pijatan aku enak." Gianna langsung menaruh tangannya di pundak Delvin dan menekan pelan-pelan dari ujung bahu hingga ke dekat leher. Jarak yang begitu dekat sampai membuat Delvin merasakan sesuatu yang berbeda dari istri keduanya ini. Aroma yang jelas bukanlah milik sang istri maupun dirinya. Semakin lama, aromanya semakin terasa dan Delvin tiba-tiba mencengkram kuat lengan Gianna dan melepaskan dari pundaknya. "Kenapa, Mas? Apa pijatan aku nggak enak?" tanya Gianna yang mengerut keningnya saat Delvin tiba-tiba saja mendekat dan mengendus-endus bagian depan tubuh Gianna ini. Delvin menarik diri. Dia hempaskan lengan Gianna dan membidiknya dengan tatapan mengintimidasi. "Kenapa ada aroma parfum laki-laki di baju kamu ini?" tanya Delvin dengan intonasi suara yang tinggi. "Ha? P-parfum laki-laki?" Gianna mulai menciumi tubuhnya sendiri dan mencari apa yang dikatakan oleh Delvin padanya. Memang seperti ada aroma lain, yang bercampur dengan aroma parfumnya sendiri dan ia baru ingat juga, bila laki-laki yang bersentuhan dengannya hanyalah laki-laki yang mentraktirnya tadi. "Kamu habis dari mana!? Dan bersama siapa!?" pekik Delvin yang teriakan sampai membuat gendang telinga Gianna serasa mau pecah, saking kencang serta dekatnya jarak mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN