"Gue ada kabar buat lo, Kak?" Rafli hanya berdehem malas menanggapi ucapan adiknya itu. Hari ini setelah menyakiti dua orang perempuan sekaligus, Rafli merasa tak senang setelahnya. Dia bersalah kepada Melanie, juga kepada Zee. Terutama kepada Zee. Rafli tak pernah sebelumnya diabaikan, diusir—ditolak oleh seorang perempuan. Rafli seperti tak terima dengan perubahan sikap Zee kepadanya. Yang dia tahu selalu menatap ke arahnya dengan tatapa memuja, sekarang tak didapatinya lagi. Ada dua sisi masih berperang dalam diri Rafli. "Mau tahu nggak?" Liora, adik semata wayang Rafli itu merebut ponsel sang kakak. "Siniin HP gue," decak Rafli. "Marah nih, gue!" Liora mengernyit menyadari raut wajah kakaknya itu. Rafli, sang kakak jarang marah selama ini. Meski mereka debat pun, berujung kakakny

