Sora tidur dengan perasaan tidak nyaman. Ia menghela napas kasar beberapa kali. Tangannya juga beberapa kali terangkat, bergerak untuk mengusap perut buncitnya. Setelah beberapa waktu, akhirnya sebuah rintihan keluar dari bibirnya. Matanya terbuka, menatap jam dinding di dekat pintu kamarnya. Masih pukul dua dini hari. Ia yakin, Ersya dan Papa Sakti pun pasti masih terlelap. “Ahhh … sshhh … harusnya ini belum waktunya, kan? Tapi kenapa sakit?” Sora memegangi perutnya. Semakin lama, semakin kencang hingga akhirnya berubah menjadi cengkeraman. Sora memutuskan untuk mencari bantuan. Ia coba hubungi telepon ayahnya, karena ia tidak kuat untuk berjalan ke luar. Namun, sayang, nomor ponsel ayahnya tidak aktif. Sepertinya Papa Sakti sengaja mematikan ponselnya agar bisa istirahat dengan tenang.

