“Terima kasih teh hangatnya, dan—” Kikan menatap ke bahu Halim yang terkena air hujan, “sampai baju kamu basah, mengantarku ke sini.” “Aku belum mandi, jadi ini tidak apa-apa.” Kikan tersenyum sambil melambaikan tangan, tentu saja tidak dapat balasan dari Halim yang memilih memasukkan tangannya ke salah satu saku celana. “Aku pergi,” Halim mengangguk, “hati-hati, hujan buat jalan jadi lebih licin.” Pesannya. Halim menatap mobil Kikan yang melaju, di tengah hujan ia berdiri sembari memegangi payung yang tadi dipakai berdua. Halim memilih berbalik, melangkah kembali ke apartemennya. Menutup pintu, ia melipat Payung dan menyimpan di gantungan dekat pintu. Ia melangkah meraih cangkir di atas meja, kopi tadi tidak cukup membuatnya kenyang jadi Halim memutuskan membuat sarapan. Ya, begitul

