Kesempatan Terakhir

2734 Kata

Reema duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Notifikasi berderet tanpa henti. Pesan, mention, komentar, semua mengarah padanya. Ia sudah mencoba tidak membaca satu pun, tapi jarinya selalu kalah oleh rasa ingin tahu. “Perempuan murahan!” “Gila ya, orang kayak dia mau bersaing sama Meiska Anggara.” “Kasian banget Meiska. Udah cantik, terhormat, malah harus ngalah sama yang kayak gitu.” “Perusahaan Sadajiwa bangkrut, CEO-nya sibuk sama perempuan murahan.” Pesan-pesan itu menusuk seperti jarum. Tak satu pun yang ia kenal, tapi kata-katanya terasa terlalu dekat. Reema menggigit bibir, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia menekan tombol power, mematikan layar, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja rias. Namun layar padam bukan berarti pikirannya ikut tenang. Bayangan wajah-w

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN