Dokter itu menunduk, mematikan mesin, lalu melihat ke arah jam dinding yang berdetak di atas pintu. "Pukul 03.42. Kami minta maaf. Dia sudah pergi." Kaelen tidak bergerak. Ia tetap menatap tubuh Rhea yang kini sudah diam sepenuhnya. Seluruh hidupnya yang penuh dengan pengkhianatan, peperangan, dan rahasia seolah-olah hancur dalam satu nada suara mesin itu. Ia kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya luar dan dalam. Aurora jatuh luruh ke lantai. Raungannya akhirnya pecah, memenuhi lorong rumah sakit yang sunyi. Ia menangis bukan hanya untuk kematian ibunya, tapi untuk hilangnya satu-satunya jangkar yang selama ini menahan keluarga mereka di tengah badai. Malam itu, di Madrid, bagian dari Keluarga Valente mati bersama Rhea. Namun di dalam diri Aurora, sebuah api baru ter

