Bab 56. Pertahanan di Ambang Maut Cahaya senter dari tim pengejar mulai menyapu mulut gua. Sinar putih itu menari-nari di dinding batu, mencari bayangan manusia. Rhea memejamkan mata sejenak, mengandalkan pendengarannya. Ia mendengar derap langkah sepatu militer yang mencoba bergerak tanpa suara di atas kerikil. Ada tiga orang. Mungkin empat. Satu... dua... tiga... Rhea menyembulkan kepalanya sedikit. Ia melihat siluet helm taktis di dekat pintu masuk. Tanpa ragu, ia melepaskan satu tembakan. Phut. Tembakan itu mengenai pundak salah satu pengejar, membuatnya terjatuh dengan teriakan tertahan. Namun, tim taktis Mendes adalah orang-orang profesional. Mereka segera membalas dengan rentetan tembakan otomatis yang menghancurkan permukaan batu tempat Rhea bersembunyi. Debu batu dan percika

