Laura belum mengetahui sensasi mana yang lebih menyakitkan: rasa sakit fisik akibat penyerangan yang dialaminya, atau penderitaan batin yang menggerogoti jiwanya. Ia merasa hancur; setiap kali terbangun, kenangan itu membuatnya berharap untuk mati. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa ia akan lebih memilih jika kedua pria yang menyerangnya membunuhnya saja. Perasaannya dipenuhi konflik. Kadang-kadang, amarah mendominasi dirinya—bagaimanapun juga, ia tidak melakukan kesalahan apa pun; ia hanya berjalan pulang. Di waktu lain, rasa takut membuatnya limbung hingga hampir kehilangan kesadaran. Rasa malu pun selalu hadir. Ia merasa bodoh karena pulang larut malam sendirian, terlebih karena ia mengetahui statistik—berapa banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual setiap tahunnya. Namun,

