Pagi itu terasa lebih pucat daripada biasanya. Langit Jakarta belum benar-benar cerah ketika mobil melaju membelah jalanan yang masih setengah lengang. Cahaya matahari baru mulai menipis dari balik gedung-gedung, memantul samar di kaca-kaca tinggi, sementara di dalam mobil suasananya justru hening dengan cara yang menekan. Gabriel menyetir sendiri. Tangannya mantap di setir, rahangnya tegas, dan sejak tadi pria itu tidak benar-benar menoleh, seolah sedang menahan banyak hal sekaligus agar tidak meluap sebelum waktunya. Anaya duduk di sampingnya dengan sabuk pengaman terpasang rapi, kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan. Pagi itu ia memilih pakaian yang sederhana, lembut, tidak mencolok. “Jadi… dia memang sudah sakit dari pas sidang?” “Penyakit bawaan. Selama ini tertahan karena peng

