Pelabuhan Indah

2344 Kata

Anaya yang biasanya paling berisik menggoda, paling percaya diri menawarkan diri, justru membeku ketika Gabriel benar-benar mengangkatnya seperti itu, dengan dipeluk di depan, tubuhnya melekat, langkah pria itu panjang dan mantap menuju kamar. Dunia seakan mengecil hanya pada napas mereka yang beradu. Begitu tubuhnya diturunkan di ranjang, kasur empuk itu memantulkan sedikit tubuhnya, dan sebelum sempat ia tertawa atau mengeluarkan satu kalimat jahil pun, bibirnya sudah dibungkam. Ciuman itu berbeda. Tidak seperti ciuman singkat di pipi atau kecupan setengah kesal yang pernah ia terima sebelumnya. Kali ini lebih dalam, lebih panas, dan ada sesuatu yang menekan yang bukan kasar untuk menyakiti, tapi penuh dorongan yang membuatnya kewalahan. Anaya terkejut sampai lupa bernapas. Tangannya r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN