“Mas, ih pindah ke kamar utama! Ini aku udah ganti pakai baju kamu. Lagian bukan salah aku dong kalau di koper gak ada baju aku sama sekali. Isinya lingerie semua. Mas, ayok pindah ih, kita belum kenalan lebih jauh. Mas!” Tok. Tok. Tok. Anaya terus mengetuk pintu kamar lain di lantai dua dengan penuh semangat, kaus putih kebesaran milik Gabriel menjuntai sampai pertengahan pahanya. Rambutnya masih setengah kering, wajahnya segar, dan ekspresinya sama sekali tidak terlihat seperti pengantin yang ditolak. Di balik pintu, suara Gabriel terdengar tegas. “Saya tidak akan keluar sebelum kamu berpakaian dengan benar.” “Ini udah bener!” sahut Anaya cepat. “Aku pakai kaos kamu loh. Wangi lagi.” Hening. “Mas!” Ia mengetuk lagi. “Aku kesepian kalau tidur sendiri!” Beberapa detik kemudian, kun

