Lembaran Kisah Kolonel

2614 Kata

Ketika pesta benar-benar berakhir dan aula megah itu mulai lengang, Anaya merasakan kelelahan turun seperti selimut. Musik sudah meredup, gelas-gelas ditarik perlahan oleh pelayan, dan hanya tersisa beberapa orang yang masih saling berpamitan dengan kepentingan masing-masing. Ia baru saja menghela napas ketika sebuah tangan lembut menyentuh lengannya. “Ke sini dulu, Nak,” ucap Kamala pelan. Anaya menoleh. Wajah ibu mertuanya itu teduh, rapi, dan menenangkan, seolah malam yang ramai barusan tidak pernah terjadi. Anaya mengangguk dan mengikuti langkahnya ke sebuah ruangan kecil di sisi gedung, masih hangat oleh lampu-lampu dinding dan aroma bunga putih. Begitu pintu tertutup, Kamala tersenyum dan duduk berhadapan dengannya. “Tadinya Mama sudah menyiapkan kamar di hotel ini untuk kamu,” ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN