Cinta yang Datang

1744 Kata

Malam itu, Kalandra menginap. Ia akan kembali ke rumah tahanan esok pagi, sebelum sidang militer yang bayangannya sudah berdiri di depan mata seperti dinding tinggi. Bibi Nida dan Mbak Febby memilih memberi ruang. Mereka pamit lebih dulu, meninggalkan apartemen dalam keadaan yang jarang terjadi akhir-akhir ini terasa sunyi, aman, dan hanya milik dua orang. Hujan turun deras di luar, menampar kaca jendela dengan suara yang konstan. Televisi menyala dengan film romansa lama, yang alurnya lambat dan penuh dialog sederhana. Marsha bersandar pada bahu Kalandra, lututnya tertekuk di sofa, kepalanya pas di lekuk leher pria itu. Di tangannya, sebuah cookies cokelat almond favorit Kalandra yang sudah tinggal setengah. “Filmnya klise,” gumam Kalandra pelan, tapi lengannya tetap melingkar nyaman di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN