Septi berdecak kesal, bukan pada Gabriel, bukan pula pada Marsha, melainkan pada keadaan yang selalu datang di waktu yang tak pernah rapi. Ia berdiri di tengah ruang tamu apartemennya, tangan bersedekap, napasnya teratur tapi matanya menyala. “Terus, sekarang apa?” tanya Gabriel pelan, masih berdiri terlalu dekat untuk jarak aman. Septi menoleh cepat. “Sekarang kamu pergi,” katanya tanpa basa-basi. “Ke markas. Cari tahu siapa saja oknum petinggi TNI yang ikut bermain di Naira. Nama, jalur, tanda tangan, semuanya. Aku mau bukti yang nggak bisa dipelintir.” Gabriel mengangguk, refleks profesionalnya kembali hidup. “Oke. Tapi—” ia ragu sejenak, “Marsha gimana?” “Itu urusanku,” potong Septi, suaranya tegas. “Kamu jangan mikir ke sana. Fokus kerja.” Gabriel menghela napas, lalu mendekat se

