Entahlah, Gabriel tidak bisa membedakan ini mimpi atau bukan. Yang jelas rasa sakitnya nyata. Ia berdiri di dek kapal pesiar yang basah, angin laut berhembus kencang menerpa wajahnya. Langit gelap, ombak menghantam sisi kapal tanpa henti. Orang-orang berlarian. Teriakan bercampur suara benda jatuh. Lampu berkedip. “Gabriel!” Suara itu. Ia menoleh. Septi berdiri di ujung dek, gaun putihnya berkibar, rambutnya basah oleh hujan atau air laut, ia tidak tahu. Wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan. “Tolong…” Gabriel berlari. Kakinya terasa berat seperti menapak lumpur. Ia berteriak memanggil namanya, tapi suaranya seperti tertelan angin. “Septi! Jangan ke sana!” Lantai kapal tiba-tiba miring. Air menggenang. Sosok Septi tergelincir. Tangannya terulur. “Gabriel!” Ia hampir menyentuhnya

