Hanya Tempat Siggah

3387 Kata

Anaya sudah kembali ke Indonesia sejak kemarin. Apartemen itu terasa berbeda ketika ia ada di dalamnya. Tidak lagi sunyi dan dingin seperti biasanya, tidak lagi sekadar ruang singgah seorang perwira yang hidupnya lebih banyak di laut daripada di rumah. Kini ada aroma parfumnya yang lembut, ada selimut yang dilipat tidak terlalu rapi, ada bantal yang ia atur ulang karena “kurang empuk.” Malam itu ia duduk manis di sofa ruang tengah, televisi menyala tanpa benar-benar ia perhatikan. Film yang diputar hanya jadi latar suara. Fokusnya sebenarnya ada pada pintu. Gabriel bilang ia makan malam dengan temannya. Teman. Anaya mendengus kecil. “Teman apa sih malam-malam begini,” gumamnya pelan, tapi tidak benar-benar cemburu. Ia hanya… ingin Gabriel cepat pulang. Rutinitas barunya sejak menikah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN