“Ma, Mama… Mamaaa…” Suara itu terdengar berkali-kali dari ruang televisi, naik turun seperti alarm kecil yang tidak sabaran. Pagi itu rumah belum sepenuhnya ramai, tapi satu anak botak hampir tiga tahun sudah berhasil menciptakan kegaduhan sendiri. Marsha sedang berdiri di dapur, menyusun isi dua keranjang anyaman besar di atas meja island. Satu keranjang untuk orangtuanya, satu lagi untuk Ayah Bimo dan Ibu Rindiani. Kue-kue yang ia buat semalam berupa cookies favorit Kalandra, bolu lemon lembut, dan beberapa pastry kecil yang ditata rapi dengan kertas roti putih. “Maamaa…!” suara itu lagi. “Sebentar, Bang,” jawab Marsha dari dapur, tetap fokus mengikat pita di gagang keranjang. Di kamar, Mbak Sari sang pengasuh Sanjaga tengah kesulitan memakaikan kemeja kecil warna biru muda yang terl

