Berpulang

2611 Kata

Anaya menemani neneknya sampai napas perempuan tua itu perlahan menjadi lebih teratur. Tangannya tetap menggenggam tangan keriput itu, seolah jika ia melepaskannya terlalu cepat, sesuatu yang berharga akan ikut pergi. Lampu kamar diredupkan oleh perawat, hanya menyisakan cahaya kecil di sisi ranjang. Mesin oksigen masih berdengung lembut, ritmenya tenang seperti detak waktu yang pelan. Gabriel berdiri di dekat jendela beberapa saat, memberi ruang pada Anaya. Ia tidak mengganggu, hanya sesekali melirik memastikan istrinya tidak terlalu lama menahan tangisnya sendiri. Setelah memastikan sang nenek benar-benar terlelap, Gabriel mendekat perlahan dan menaruh tangannya di bahu Anaya. “Kita pulang saja dulu,” ucapnya lembut. “Besok kita ke sini lagi. kamu juga perlu istirahat, Anaya.” Anaya m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN