“Anak siapa, Kak?” tanya Marsha memastikan lagi, nadanya sedikit tercekat meski senyumnya masih terjaga. Ada detik kecil di dadanya yang menunggu dan berharap jawaban itu tidak akan mengguncang apa pun yang sudah susah payah ia bangun. Indila tertawa renyah, tangannya refleks mengusap perut yang mulai membulat. “Anak aku sama calon suami aku dong, hehehehehe.” Ia mengedipkan mata, lalu melanjutkan dengan ritme bicara yang selalu terasa cepat dan penuh energi. “Dan kebetulan ketemu kamu di sini. Kamu datang ya ke pesta ulang tahun Kakak sebelum ninggalin Indonesia. Nih, kakak kirim link-nya ke nomor kamu, masih sama ‘kan? Pokoknya datang ya lusa, bawa hadiah juga.” Marsha mengangguk cepat. “Masih, Kak.” “Oh iya, kemungkinan bayi Kakak ini laki-laki, okeyy?” Indila menepuk ringan perutnya

