Sebenar Marsha mulai merasakan sakitnya, seperti gelombang yang datang teratur dari bawah perut lalu naik menekan pinggang. Marsha tahu ini bukan lagi mulas ringan. Ini kontraksi yang nyata. Tapi ia menggigit bibir, menahan erangan yang ingin lolos, menelan napasnya sendiri setiap kali rasa itu datang, bukan karena ia sok kuat, melainkan karena tatapan Kalandra. Tatapan panik itu. “Sayang….” Kalandra berdiri di sisi ranjang VIP rumah sakit, kemeja digulung sampai siku, rambutnya berantakan, wajahnya pucat setengah. Setiap kali Marsha mengerang pelan menandai kontraksi, alisnya langsung mengernyit, seolah rasa itu pindah ke tubuhnya sendiri. “Sayang… sakitnya di mana sekarang?” tanyanya lagi, suara berusaha stabil, tapi gagal sepenuhnya. Marsha tersenyum tipis di sela napas. “Mas… jang

