Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut dan udara yang sedikit menggigit, khas negeri yang lebih dekat dengan laut dan angin dingin. Dari jendela besar villa kecil mereka, kanal membentang tenang seperti kaca panjang yang memantulkan langit pucat. Deretan rumah bergaya khas Belanda berdiri rapi di seberangnya, dengan jendela tinggi dan tirai tipis yang sebagian masih tertutup. Gabriel sudah terbangun sejak beberapa menit lalu, duduk di tepi ranjang sambil menatap Anaya yang masih tertidur pulas, pipinya sedikit tertutup rambut, napasnya teratur, dan tangannya menggenggam ujung selimut seperti anak kecil. Ada sesuatu dalam dirinya yang selalu berubah setiap kali melihat perempuan itu dalam keadaan seperti ini membuatnya… lebih tenang, lebih lembut, dan entah kenapa… lebih merasa pulang.

