“Mama tuh heran, Gabriel sibuk operasi apa? Padahal dari sebelumnya dia bilang mau beresin kerjaannya supaya bisa damping kamu selama prosesnya,” ucap Kamala sambil mengaduk sup hangat di atas kompor. Dapur apartemen itu malam ini terasa hidup. Aroma bawang putih, kaldu, dan sedikit lada memenuhi udara, menciptakan kehangatan yang kontras dengan perasaan yang pelan-pelan mengendap di dalam hati Anaya. Anaya berdiri di sisi lain meja, sedang memotong sayuran dengan gerakan yang rapi namun sedikit lambat, seolah pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. “Aku juga nggak tahu, Ma,” jawabnya pelan. “Semalam sampai sekarang… belum pulang.” Kamala mendengus kecil. “Itu anak kalau sudah kerja, dunia bisa dia tinggal.” Anaya tersenyum tipis, mencoba tetap tenang. “Mungkin memang penting, Ma.”

