Canggung yang Dalam

1823 Kata

“Bu, saya rasa Bapak harus tahu. Biar saya temui Pak Raka supaya memberitahu Bapak dalam hal ini,” ucap Mbak Ani sambil menyelimuti kaki sang majikan dengan hati-hati, memastikan selimut itu menutup hingga ke pergelangan kakinya. Malam sudah turun ketika mereka kembali ke apartemen. Cahaya lampu kota memantul di jendela besar kamar, menciptakan bayangan lembut di dinding yang terasa tenang, berbanding terbalik dengan pagi yang penuh kepanikan tadi. Aroma antiseptik dari klinik masih samar melekat, seolah mengingatkan bahwa beberapa jam lalu semuanya hampir terasa seperti mimpi buruk. Anaya bersandar di kepala ranjang, wajahnya masih pucat, namun sorot matanya jauh berbeda. Tidak lagi kosong. Tidak lagi hancur. Ada sesuatu yang baru di sana, sesuatu yang pelan-pelan tumbuh, menggantikan r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN