Selat Bab el-Mandeb, di sanalah Gabriel menahan napasnya sendiri. Angin asin menyapu geladak kapal perang multinasional yang ia tumpangi, sebuah kapal komando yang menjadi pusat kendali operasi di sektor itu. Di kejauhan, garis laut tampak tenang, padahal di bawah permukaan ketenangan itu, jalur pelayaran paling sempit dan paling panas di kawasan itu selalu menyimpan risiko mulai dari kapal cepat tak dikenal, gangguan komunikasi, hingga upaya pencegatan konvoi bantuan. Gabriel berdiri di bridge wing, sisi anjungan yang menghadap laut terbuka. Seragam lapangannya rapi, tapi matanya tidak. Ada lelah yang tertahan, ada kesal yang ia tekan dalam-dalam. Tidak ada lagi pesan dari Anaya, dan nomor tiak bisa dihubungi. Itu sangat menyebalkan. Ia menatap ponselnya yang layarnya gelap, lalu mengem

