Gabriel baru selesai dari pekerjaannya ketika malam sudah jatuh terlalu dalam untuk disebut malam biasa. Jam di dashboard mobilnya menunjukkan lewat tengah malam, dan jalanan Jakarta yang biasanya padat kini terasa lengang, hanya sesekali dilintasi truk logistik, taksi, atau motor yang melaju dengan suara mesin yang memantul di aspal basah. Ia menyetir sendiri malam itu. Seragam dinasnya sudah diganti dengan pakaian yang lebih sederhana, dengan kaos gelap dan celana panjang hitam. Tidak memutar musik. Tidak menyalakan radio. Pikirannya terlalu penuh untuk diberi latar. Sepanjang perjalanan, yang terus muncul di benaknya hanyalah wajah Anaya yang mungkin sekarang sudah semakin pucat karena terlalu banyak menangis. Di rumah duka seperti ini, malam setelah kematian memang tidak pernah bena

