Selain belanja pakaian, Gabriel ternyata belum selesai. Ia kembali berjalan dengan langkah pasti menyusuri koridor mall yang dipenuhi etalase kaca berkilau. Anaya yang masih sedikit limbung karena terlalu banyak kejutan hari itu hanya mengikuti dari belakang. “Mas, kita mau ke mana lagi?” tanyanya, setengah terengah karena harus mempercepat langkah. Gabriel tidak menoleh. “Kamu butuh perawatan kulit.” “Hah? Kulit aku kenapa?” Anaya refleks meraba pipinya sendiri. “Mulus tuh, cantik juga. Emang salah ya?” “Terpapar matahari, debu, air laut, entah apa lagi,” jawab Gabriel singkat. “Masuk.” Mereka berhenti di depan sebuah store make-up dan skincare mewah. Interiornya putih bersih dengan lampu hangat, aroma lembut floral memenuhi udara. Seorang staff langsung menyambut dengan senyum profe

