Karena tidak ingin terus terjebak dalam pikirannya sendiri, pagi itu Anaya akhirnya meminta sopir untuk mengarah ke sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi, yaitu Panti Asuhan Santa Maria Kasih. Tempat itu sederhana, jauh dari kemewahan apartemen yang kini ia tinggali, tetapi justru di sanalah ia pernah menemukan sedikit ketenangan di tengah masa kecil yang tidak pernah benar-benar ramah padanya. Di dalam mobil, ia duduk diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara kepada Mbak Ani yang duduk di sampingnya. “Mbak… aku dulu sering dititipin di sana kalau mereka pergi keluar negeri,” ucapnya pelan, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang melihat masa lalu yang perlahan muncul kembali. “Kadang seminggu, kadang lebih. Mereka bilang biar aku belajar mandiri.” Ia tersenyum kec

