“Adek, bangun Sayang! Ini Mama, Nak.” Ihsan menepuk-nepuk pipi Indira agar segera bangun. “Sayang, bangun,” ucapnya pelan. “Ya, Allah, Nak. Buka matanya Lila!” Indira masih memanggil-manggil nama Kalila sambil menangis. Tangannya mencengkeram erat kemeja yang dipakai kekasihnya. “Hey, Sayang. Bangun.” Ihsan mempelai lembut kepala Indira sembari membangunkan dengan suara lembut. Jika bersuara keras Ihsan takut jika sang kekasih kaget. Indira membuka matanya langsung melihat di sekelilingnya. Dia seperti tengah mencari-cari sesuatu dengan wajah bingung. “Sayang, kamu kenapa?” “Lila mana, Mas? Dia tadi pingsan. Terus, F-fira ...” “Hssttt, kamu mimpi buruk. Sejak tadi berteriak memanggil nama Lila,” jelas Ihsan. “Ayah dan Papa ikut membantu membangunkanmu tapi gagal. Kamu tak mau membuk

