“Shera ….” Seketika Shera terjengkit kaget, terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar kencang dan mata basah. Mendapati dirinya terbaring di antara temaram kamarnya, dia baru sadar semua hanya mimpi. Iya, mimpi yang terasa begitu nyata hingga suara lembut panggilan mamanya terngiang jelas di telinga. Ini kali kedua dia didatangi mendiang mamanya dalam mimpi. Sama seperti ketika dia koma, mamanya datang dan menuntunnya untuk bertemu Darin. Tapi, apakah itu hanya sekedar mimpi? Sedang setiap ucapannya teringat jelas di benak Shera. Seperti barusan meski tidak mengatakan apapun selain memanggil namanya, namun Shera seperti benar-benar bisa merasakan pelukan hangat mamanya. Jarum jam hampir menyentuh angka dua. Merasa tidak tenang, perlahan Shera menyingkirkan tangan Liam yang melingk

