Bab.143 Terserah

1619 Kata

Kalau biasanya rumah jadi tempat ternyaman yang ingin Liam tuju saat lelah, sekarang justru sebaliknya. Rasanya enggan kembali kesana. Marah, merasa tidak dihargai oleh orang-orang yang selama ini bahkan menjadi prioritas utamanya. Namun, mau bagaimana lagi. Siap tidak siap, masalah itu sudah datang dan tidak mungkin dia hindari lagi. Tiba-tiba ingatannya kembali pada obrolannya dengan Shera di perjalanan tadi siang. Liam tersenyum kecut. Pantas saja istrinya tiba-tiba bicara perumpamaan jika hal serupa Nay terjadi pada Letta. Ternyata dia sudah tahu semua. Mobil berhenti di garasi rumahnya. Liam bergegas turun dan melangkah lebar ke arah pintu samping. Niatnya ingin tidur tenang sirna, karena kedatangannya sudah disambut mereka bertiga di ruang tengah. “Liam, bisa bicara sebentar?” uc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN