Daren benar-benar terniat menyeret Liam untuk bertemu dengan Cello. Demi itu dia sampai rela nongkrong disana menunggu sahabatnya itu selesai dengan pekerjaannya. Padahal dia sendiri masih punya tanggungan di kantor. Belum lagi matanya yang terasa berat karena belum tidur dari kemarin. Sudah beberapa kali dia mengisi lagi cangkir kopinya, tapi tetap saja menguap lebar. Sudah ngantuk, masih dicueki lagi sama Liam. Mereka berada di ruangan yang sama, tapi dirinya dianggap dedemit tidak kasat mata. Biarpun dari tadi mondar-mandir dan sesekali menggerutu, Liam tetap fokus ke pekerjaannya. Dia kalau sudah marah totalitasnya tidak kira-kira. Bahkan Cello yang sudah seperti saudara tumbuh bersama dari kecil pun langsung diblokir nomornya. “Sialan! Minum kopi bukannya mata melek, malah beser te

