Gina Menyusun Pelarian.

1106 Kata

Malam turun dengan lambat, menindih atap-atap seng rusun yang pengap. Dari jendela kecil yang kacanya retak, suara televisi tetangga terdengar samar bercampur tangis bayi. Bau gorengan minyak jelantah masuk lewat ventilasi, menusuk hidung. Lampu neon gantung berwarna kuning pucat berayun pelan tertiup kipas angin rusak yang bunyinya berdecit. Di dalam kamar sempit itu, Gina duduk dengan lutut ditarik ke d**a. Kertas-kertas tagihan berserakan di lantai, menutupi ubin dingin yang sebagian retak. Listrik, air, utang di warung makan, utang ke teman, bahkan cicilan ponsel yang kini mati total. Semuanya menumpuk, menjerit, menagih. Dompetnya? Hanya berisi dua lembar uang lusuh dan beberapa receh yang bahkan tidak cukup untuk ongkos pulang jika ia nekat melamar kerja ke luar kota. Ponselnya te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN