Darah Tak Pernah Bohong.

1100 Kata

Hening melingkupi ruang tamu keluarga Abimana pagi itu. Kamelia duduk tegak di ujung sofa panjang, jari-jarinya yang ramping mengepal erat di atas pangkuannya. Di hadapannya, Aksa berdiri dengan tubuh tegap, meski rambutnya telah memutih dan kulitnya tak lagi sekencang dulu. Di balik garis usia yang menua, masih terlihat ketegasan seorang pria yang pernah menaklukkan dunia bisnis. "Aku tahu matamu tidak mungkin salah mengenali tatapan itu, Sayang," kata Aksa pelan, tapi tegas. Kamelia menatap suaminya dengan mata memerah. "Itu anak kita, Mas. Aku bisa merasakannya. Bahkan sebelum dia bicara, aku tahu. Saat aku menyentuh tangannya, seolah tubuhku bicara sendiri." Suaranya pecah. Aksa menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat. Ia menyentuh bahu Kamelia dan menatapnya penuh pertimbang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN