Pagi itu, rooftop sebuah café di tengah kota tampak sepi. Langit Jakarta murung, awan gelap menggantung rendah, seolah ikut menahan napas untuk hari yang tak pasti. Udara dingin membawa aroma hujan yang belum turun, membaur dengan wangi kopi dari mesin espresso di sudut café. Jafran berdiri membelakangi kaca pembatas, menatap ke bawah gedung-gedung bertingkat yang seakan berbaris rapi, memantulkan matahari yang tersisa di balik awan. Tangan kanannya menggenggam secangkir kopi hitam, nyaris tak tersentuh. Wajahnya sayu, rambut sedikit acak akibat malam tanpa tidur. Kedua matanya menatap jauh, tapi kosong, seperti seseorang yang tersesat dalam pikirannya sendiri. Dari belakang, langkah sepatu hak tinggi terdengar, menggeser lantai kayu dengan suara halus tapi pasti. Suara itu membuat Jafra

