Pagi itu, Jakarta diselimuti awan tebal. Cahaya matahari hanya sesekali menembus celah-selah gedung tinggi, membiaskan kilau pucat ke lantai lobi Abimana Group. Biasanya lobi megah itu penuh dengan suara langkah kaki, ketukan sepatu, dan dering telepon, namun pagi ini terasa berbeda—hening tapi menegangkan. Wajah-wajah staf tampak kaku, mata mereka mencuri pandang ke pintu kaca otomatis yang perlahan membuka. Gina melangkah masuk. Langkahnya mantap, cepat, penuh tekad. Blazer hitam ketat yang membungkus tubuhnya, rok pensil serasi, dan sepatu hak tinggi membuatnya tampak profesional—tapi di balik itu, ada aura rapuh yang terselip di sudut matanya. Ia berjalan melewati lobi. Para resepsionis dan staf yang mengenal wajahnya, mantan sekretaris yang dulu disegani, menoleh diam-diam. Gina tid

