Langit sore di Jakarta pekat, menggantung mendung tebal seperti selimut kelabu yang menekan kota. Hujan rintik-rintik belum turun, tapi udara lembap dan dingin seakan menahan napas, sama seperti isi hati Gina. Ia menyeret koper kecil ke trotoar, langkahnya berat, kaki terhuyung-huyung di antara keramaian kendaraan dan orang yang berlalu-lalang. Sorot mata penuh amarah menempel di punggungnya. Pemilik apartemen—temannya sendiri—berdiri di balkon, wajah memerah karena marah sekaligus kecewa. “Lo gak tahu diri ya, Gin!” bentak wanita itu. Suaranya menggema di lorong apartemen, tajam dan menusuk. Gina menunduk. Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk, tapi ia tak sanggup membalas. Hanya anggukan pelan. Di tangan kirinya, tas jinjing berisi sisa baju kantor dan perlengkapan mandi, di tangan

