Malam sudah larut. Lampu-lampu rumah keluarga Abimana redup, menyisakan cahaya temaram dari taman belakang yang masih menyala. Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga kamboja yang lembut berpadu dengan tanah basah setelah hujan sore tadi. Suara jangkrik dan riak air kolam kecil menambah kesunyian yang terasa sakral, seolah dunia berhenti sejenak. Di bangku kayu dekat kolam, Ferdy duduk sendiri. Jaket lusuh yang menempel di tubuhnya mulai pudar warnanya, tapi ia tak peduli. Tangannya sibuk mengelus kepala, mencoba menenangkan pikirannya yang kusut. Suara hatinya berisik, bergemuruh, sementara matanya menatap riak air yang menari diterpa angin. Hidup mewah, rumah megah, nama besar keluarga Abimana—semuanya terasa hampa. Dan darah yang sama, ternyata, tidak selalu berarti keluarga.

