Keheningan kembali jatuh. Tapi kini bukan awkward. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih intim. Ferdy akhirnya menyentuh pipi Zola, ibu jarinya mengusap pelan kulitnya. “Kamu gila, tahu nggak?” Zola terkekeh kecil. “Kalau gila karena milih kamu … aku rela.” Ferdy menutup mata, kepalanya merunduk hingga keningnya menyentuh kening Zola. Mereka berdua hanya diam, merasakan detak jantung masing-masing yang bertemu di antara keheningan. Lalu, tanpa sadar, bibir Ferdy kembali mencari bibir Zola. Sebuah ciuman pagi, lembut tapi penuh makna. Tidak liar seperti semalam, tapi hangat. Zola menanggapi, tubuhnya relaks dalam dekapan Ferdy. Dan di sela ciuman itu, desahannya lirih. “Tapi jangan mikirin Gina saat sama aku, ya ….” Ferdy tertegun, tapi tidak menjawab. Ia hanya memperdalam ciuman

