Pagi itu udara dingin tapi cerah. Embun menempel di dedaunan sekitar rumah kayu sederhana “Rumah Kedua.” Suasana pagi terdengar hidup—suara tukang memukul palu, mesin bor, dan riuh rendah tawa anak-anak yang baru datang untuk pelatihan sore. Di meja kayu kantor kecil, tumpukan berkas tampak belum tersentuh. Ferdy baru saja tiba. Jaket lusuhnya masih melekat, sepatu kerjanya penuh debu. Tangannya berlumur sisa semen dari proyek kemarin. Ia berjalan masuk sambil menyapa para tukang yang sudah mulai bekerja. Suasana akrab dan hangat ini jauh berbeda dari gedung-gedung mewah tempat ia dulu dipermalukan dan dicurigai, di mana tatapan sinis dan komentar pedas selalu membayanginya. Di atas mejanya, tergeletak sebuah amplop putih besar. Awalnya ia mengira itu dokumen vendor atau nota pembelian a

